Oleh: Firdaus, SE.,M.Si
Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PW Muhammadiyah Riau

Di banyak daerah, sawit bukan sekadar tanaman. Sawit adalah sumber kehidupan. Dari sawit, anak-anak bersekolah. Dari sawit, rumah dibangun. Dari sawit, kampung dan desa berkembang. Dari sawit, roda ekonomi rakyat terus berputar. Dari sawit pula lahir harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Sawit telah mengubah wajah banyak daerah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Desa-desa yang dahulu sunyi menjadi hidup. Kawasan yang dahulu tertinggal tumbuh menjadi pusat-pusat ekonomi baru.

Karena itu, ketika berbicara tentang sawit, sesungguhnya kita tidak sedang berbicara tentang pohon. Kita sedang berbicara tentang manusia. Tentang keluarga. Tentang martabat. Dan tentang masa depan jutaan rakyat Indonesia.

Hari ini Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Kita memasok lebih dari separuh kebutuhan minyak sawit dunia.

Di balik kebanggaan itu terdapat sekitar 2,6 juta rumah tangga petani sawit. Jika dihitung bersama anggota keluarganya, sekitar 13 hingga 16 juta jiwa menggantungkan hidup pada sektor ini.

Belum lagi jutaan pekerja yang hidup dari rantai ekonomi sawit. Mulai dari pemanen, sopir angkutan, pekerja pabrik, pedagang pupuk, kontraktor, mekanik, hingga berbagai usaha kecil yang tumbuh di sekitar kawasan perkebunan.

Artinya, sawit bukan hanya menghidupi petani. Sawit menghidupi puluhan juta rakyat Indonesia. Sawit bukan hanya komoditas ekspor. Sawit adalah denyut ekonomi rakyat.

Namun di balik kebesaran itu, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan. Mengapa kelompok sebesar ini masih sering berada pada posisi yang lemah?

Ketika harga TBS turun, petani yang pertama merasakan dampaknya.Ketika pupuk naik, petani yang menanggung bebannya.

Ketika jalan produksi rusak, petani yang harus mencari jalan keluarnya. Ketika sawit mendapat kampanye negatif di pasar internasional, petani pula yang ikut menerima akibatnya.

Tetapi ketika kebijakan dibuat dan masa depan sawit dibicarakan, suara petani sering kali tidak berada di ruang utama. Padahal petani adalah fondasi industri ini.