Berita / Sosok /
Sawit Instrumen Nyata Membangun Negeri dari Pinggiran: Sebuah Kisah Inspiratif Ketum GAPKI
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono saat berbicara pada seminar sawit di Kampus UPN Veteran Yogyakarta. Foto: Ist.
Yogyakarta, elaeis.co -- Sebuah kisah inspiratif mengenai perjalanan panjangnya di industri sawit disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, saat menjadi keynote speaker dalam seminar kelapa sawit yang digelar di UPN Veteran Yogyakarta, Kamis, 22 Januari 2026.
Eddy Martono mengawali paparannya dengan memosisikan diri sebagai "pelaku sejarah" yang menyaksikan langsung transformasi wilayah belantara menjadi pusat ekonomi baru. Ia pun mengenang masa-masa awal kariernya di pedalaman Riau dan Sulawesi Barat, di mana infrastruktur dasar masih menjadi barang mewah.
"Saya adalah saksi hidup bagaimana sawit membuka daerah terpencil," ujar Eddy dalam seminar bertema “Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan” yang digelar secara hibrida tersebut. Ia menceritakan pengalamannya saat membuka lahan di wilayah Riau, juga di Pasangkayu, Sulawesi Barat. Kala itu, akses jalan masih berupa tanah yang sulit dilalui, tanpa listrik, dan tanpa sarana air bersih. Bahkan, ia harus tinggal di rumah kayu sederhana yang dindingnya ditambal dengan kertas koran dan kardus untuk menghalau dingin.
Kerasnya kehidupan di perkebunan sawit kala itu diakui Eddy sangat berat dihadapi, bahkan ada rekannya dari sebuah perguruan tinggi di Palembang yang tak tahan dan memilih cabut. "Waktu itu ada rekan saya baru beberapa lama bekerja dia menyerah dan memilih pulang. Dia bilang, 'Mas, yang betah kerja di sini cuma orang gila,'" kenang Eddy sembari tertawa. Menurutnya, bekerja di industri sawit pada masa itu menuntut ketangguhan fisik dan mental yang luar biasa.
Bahkan untuk urusan mendasar seperti sanitasi, Eddy harus beradaptasi dengan lingkungan. Ia menceritakan pengalaman pribadinya yang harus pergi ke tepi pantai atau tepi hutan pagi-pagi sekali untuk "buang hajat" demi mencari suasana yang masih sepi dan privasi yang terjaga, mengingat minimnya fasilitas MCK saat itu.
Aspek lain yang sangat menantang adalah komunikasi. Jauh sebelum era telepon seluler, Eddy harus menempuh perjalanan jauh ke wartel terdekat demi bisa menghubungi atasan di Jakarta atau sekadar melepas rindu dengan kekasih hati. "Dulu kalau mau telepon ke Jakarta atau pacar, harus pakai telepon yang masih diputar itu. Suara kita harus keras sekali, sampai-sampai terdengar sejauh satu kilometer," ujarnya menggambarkan betapa sulitnya akses informasi di masa pembukaan lahan.
Namun, segala jerih payah itu terbayar lunas. Bukti paling nyata dari peran sawit sebagai penggerak ekonomi yang dipaparkan Eddy adalah perkembangan wilayah Pasangkayu. Berawal dari satu kecamatan terpencil yang ia buka berpuluh tahun lalu, kini wilayah tersebut telah berkembang menjadi tiga kabupaten dan menjadi tulang punggung terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat. Eddy pun menegaskan bahwa kelapa sawit bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan katalisator utama pembangunan daerah tertinggal di Indonesia.
Pesan untuk generasi muda
Menutup sambutannya, Eddy Martono yang sukses berkarir di industri sawit dan menduduki posisi puncak di GAPKI, mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa pertanian, untuk bangga dan optimistis terhadap industri sawit nasional. Ia meminta mereka untuk tidak mudah termakan kampanye negatif yang sering mendiskreditkan sawit, mengingat kontribusi nyata industri ini bagi kedaulatan ekonomi bangsa.
Ia pun memungkasi orasinya dengan sebuah pantun yang disambut tepuk tangan meriah:
Selamat datang di UPN Veteran Yogyakarta
Kampus bela negara penuh dedikasi dan karya
Tempat generasi muda menuntut ilmu dan cita
Siap membela sawit Indonesia demi bangsa dan negara.-







Komentar Via Facebook :