JAKARTA, elaeis.co -- Upaya mendorong penggunaan teknologi dry process dalam pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus bergulir. Teknologi yang digadang-gadang mampu menghasilkan minyak sawit dengan emisi karbon lebih rendah, minim limbah cair, serta mempertahankan kandungan nutrisi alami itu kembali menjadi salah satu topik utama dalam diskusi bersama media menjelang pelaksanaan 4th Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026.

Meski berbagai pihak menilai dry process menawarkan banyak keunggulan dibanding teknologi konvensional berbasis wet process, adopsinya di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari pembuktian keekonomian, hasil produksi dalam skala komersial, kesiapan regulasi, hingga keberanian pelaku industri meninggalkan investasi besar yang telah tertanam pada pabrik kelapa sawit (PKS) konvensional.

Diskusi yang berlangsung di Hotel Harper, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026 itu, menampilkan Ketua Bidang Perkebunan GAPKI, R. Azis Hidayat, serta Direktur Industri Kemurgi, Oleokimia dan Pakan, Ditjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Krisna Septiningrum. Diskusi berlangsung menarik, dipandu Posma Sinurat, Ketua P3PI Bidang Pabrik Kelapa Sawit, yang juga Ketua Panitia 4th TPOMI 2026.

Ketua Bidang Perkebunan GAPKI, R. Azis Hidayat, menegaskan bahwa inovasi teknologi merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan efisiensi dan daya saing industri sawit nasional. Namun menurutnya, keberhasilan teknologi baru tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan proses pengolahannya.

“Secanggih apa pun teknologinya, keberhasilannya tetap sangat ditentukan oleh pasokan bahan baku, legalitas, produktivitas kebun, sumber daya manusia, dan tata kelola yang baik,” ujarnya.

Industri sawit Indonesia sendiri masih menunjukkan kinerja yang kuat. Pada 2025, produksi CPO nasional mencapai 51,66 juta ton atau meningkat 7,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Volume ekspor naik 9,5 persen menjadi 32,34 juta ton, sementara nilai ekspor melonjak 29,2 persen menjadi US$35,87 miliar. Data tersebut menunjukkan bahwa ruang untuk inovasi dan peningkatan efisiensi masih sangat terbuka di tengah pertumbuhan industri yang terus berlanjut.

Menawarkan paradigma baru pengolahan sawit

Teknologi dry process pada dasarnya menawarkan pendekatan berbeda dibanding sistem pengolahan sawit yang selama puluhan tahun digunakan industri.

Pada wet process, pengolahan TBS mengandalkan penggunaan uap panas (steam) dalam jumlah besar. Proses ini membutuhkan energi tinggi dan menghasilkan limbah cair atau Palm Oil Mill Effluent (POME) yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama pengelolaan lingkungan di PKS.

Sebaliknya, dry process dikembangkan dengan penggunaan suhu yang lebih rendah dan minim air. Proses ekstraksi dilakukan melalui pendekatan mekanis dan enzimatis sehingga tidak memerlukan sistem pengolahan limbah cair sebesar yang digunakan pabrik konvensional.

Karena tidak menghasilkan POME dalam jumlah besar, teknologi ini dinilai berpotensi menurunkan emisi karbon secara signifikan. Dalam diskusi yang berlangsung pada konferensi pers TPOMI, bahkan disebutkan bahwa emisi karbon dapat ditekan hingga sekitar 75 persen dibanding sistem wet process.

Keunggulan lain yang sering disorot adalah kemampuannya mempertahankan senyawa bioaktif alami yang terkandung dalam buah sawit. Secara alami minyak sawit kaya akan karotenoid, vitamin A, vitamin E, tokotrienol, serta berbagai antioksidan. Namun sebagian besar kandungan tersebut berkurang selama proses pengolahan dan pemurnian konvensional yang menggunakan suhu tinggi.

Melalui dry process, kandungan nutrisi tersebut diharapkan dapat dipertahankan dalam jumlah yang lebih besar sehingga membuka peluang pemanfaatan sawit tidak hanya sebagai bahan pangan dan energi, tetapi juga sebagai bahan baku industri kesehatan dan farmasi.

“Ke depan bukan hanya minyaknya yang bernilai, tetapi juga vitamin, antioksidan, dan berbagai komponen bernilai tinggi yang dihasilkan,  yang selama ini banyak hilang dalam proses pengolahan konvensional,” ujar Krisna Septiningrum.

Cocok untuk kebun rakyat, tetapi masih menunggu pembuktian

Salah satu daya tarik utama dry process adalah konsepnya yang modular. Berbeda dengan PKS konvensional yang membutuhkan investasi besar dan kapasitas puluhan ton TBS per jam, unit dry process dikembangkan dalam kapasitas yang lebih kecil, sekitar 5–10 ton TBS per jam.