https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Sosok /

Buka Puasa INF - Agro Investama: Ketika “Gus Petrus” dan Kyai Said Berseloroh Soal Toleransi

Buka Puasa INF - Agro Investama: Ketika “Gus Petrus” dan Kyai Said Berseloroh Soal Toleransi

Petrus Tjandra (berdiri) saat memberi sambutan. Foto: Taufik Alwie


Sebuah keakraban antara dua sahabat lama, yang berbalut toleransi beragama yang kental, tersaji menjelang buka puasa di kantor baru Agro Investama dan Islam Nusantara Foundation (INF) di Jalan Prof. Mohammad Yamin No.16, Menteng, Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026. Dua sahabat itu adalah Petrus Tjandra, CEO Agro Investama, sebuah korporasi sawit;  dan Prof. KH. Said Aqil Siroj, ulama Nahdlatul Ulama yang dikenal luas sebagai tokoh Islam moderat.

Hubungan keduanya terlihat cair sejak awal acara. Dalam sambutannya, Petrus yang sengaja mengenakan peci hitam ini beberapa kali menyapa Said Aqil dengan panggilan akrab “Abah.” Sapaan yang biasa dipakai para santri kepada kiai sepuh. Petrus yang  Katolik tulen ini juga menyinggung tausiah Said Aqil beberapa waktu lalu yang diresapinya. “Saya ingat betul, yaitu mengenai muslim yang sabar. Innalaha ma’ashobirin,” ucapnya dengan fasih. 

Tak ayal, ruangan pun riuh gelak tawa dan tepuk tangan hadirin. Pada bagian lain, Petrus bersyukur bahwa mereka bisa berkantor di kawasan elite Jakarta. Ia pun berseloroh lagi: “Semoga dengan adanya Islam Nusantara Foundation di sini, Menteng jadi Menteng yang syariah,” ujarnya, yang lagi-lagi disambut gelak tawa hadirin.

Sebaliknya, Said Aqil tak kalah santai. Ketika tiba gilirannya berbicara, ia membuka sambutan dengan seloroh yang langsung memancing gelak tawa hadirin. “Tak lupa terimakasih kepada shohibul bait Gus Petrus, NU Cabang Katolik,” ucap Said Aqil sambil tersenyum. Ruangan yang dipenuhi tokoh agama, pengusaha, dan sahabat lama itu pun kembali riuh oleh tawa.

Petrus tampak sumringah bahagia. Maklumlah, hari itu sekaligus acara tasyakuran kantor baru Agro Investama, yang boyongan sejak Januari lalu dari kantor lama di Jalan Kudus, juga masih di kawasan Menteng. Bedanya, kantor lama relatif lebih kecil, berstatus ngontrak pula. Ada pun kantor baru yang lebih luas dan megah merupakan inventaris perusahaan. Di rumah megah ini, INF ikut berkantor. “Bisa dibilang hari ini soft opening, tapi tidak formal,” ujar Petrus kepada elaeis.co usai berbuka.  

Ia lalu bercerita bagaimana hubungan dengan Said Aqil sudah terjalin cukup lama, bahkan melewati berbagai fase kehidupan. Itu berawal dari ketertarikannya dengan pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang ia kagumi sejak lama. “Saya ini sebenarnya simpatisan NU sejak 30 tahun lalu. Saya Gusdurian,” tuturnya. Dari situlah, 15 tahun kemudian, ia mengenal dan bersahabat dengan Said Aqil. 

“Pak Kyai selalu memberikan dukungan dan doa kepada kami di saat kami susah,” kata Petrus. Baginya, persahabatan dengan ulama NU itu bukan sekadar hubungan formal. “Sahabat dan orang tua itu kita lihat ketika kita sedang menghadapi kesulitan,” ujarnya.

Menurut Petrus, Said Aqil sering menjelaskan bahwa Islam di Indonesia memiliki karakter tersendiri. “Akidahnya dari Arab,” ujarnya menirukan penjelasan sang kyai, “tapi budayanya punya sejarah kita sendiri.” Karena itulah, bagi Petrus, hubungan dengan tokoh-tokoh NU terasa begitu natural.

Pesantren dan ekonomi

Namun malam itu bukan hanya soal keakraban dan toleransi. Di balik suasana santai tersebut, ada agenda yang lebih besar: membangun jembatan antara dunia usaha dan jaringan pesantren. Seperti diketahui, INF dikenal sebagai salah satu lembaga yang aktif mengembangkan wacana Islam Nusantara—sebuah pendekatan Islam yang menekankan moderasi, toleransi, serta dialog antarbudaya.

INF dihuni sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama. Di antaranya Helmy Faishal Zaini sebagai ketua dan Amin Nur Nasution sebagai sekretaris. Kegiatan organisasi ini banyak berfokus pada diskusi kebangsaan, moderasi beragama, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pesantren.

Petrus menjelaskan bahwa kerja sama antara INF dan Agro Investama berangkat dari gagasan pemberdayaan ekonomi umat. Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar dalam pembangunan ekonomi desa. “Hampir tidak ada desa terpencil tanpa pesantren NU,” ujarnya.

Karena itu ia melihat peluang untuk menjadikan pesantren sebagai pusat penggerak ekonomi lokal. “Cari mitra yang pintar itu mudah,” katanya lagi. “Tapi cari yang bisa dipercaya itu luar biasa.”

Salah satu sektor yang mulai dijajaki dalam kerja sama tersebut adalah perkebunan sawit. Petrus mengatakan bahwa selama ini industri sawit sering dipersepsikan hanya dikuasai perusahaan besar. Padahal, menurutnya, banyak tokoh pesantren yang juga memiliki kebun sawit.  Ia berharap pesantren dapat berperan dalam pengembangan sawit rakyat, sehingga manfaat ekonomi komoditas ini lebih luas dirasakan masyarakat.

Beberapa tahun lalu, gagasan itu bahkan mulai diwujudkan melalui pembentukan Koperasi Tani NU (Koptanu). Model koperasi tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi petani kecil dalam rantai industri sawit nasional.

Persahabatan sebagai fondasi

Menariknya, kerja sama antara INF dan Agro Investama sejauh ini belum dibangun melalui kontrak formal. Petrus mengatakan hubungan tersebut lebih banyak bertumpu pada kedekatan personal. “Belum ada MoU formal,” ujarnya. Menurutnya, kerja sama itu lahir dari kesamaan visi. “Ini lebih pada hubungan personal antara Pak Kyai Said, Pak Amin, dan saya,”. 

Hari itu, di sebuah rumah di Menteng, pada petang Ramadan, toleransi beragama tak lagi menjadi slogan. Ia hadir sebagai persahabatan yang sederhana—tetapi hangat dan nyata.-

 

 

 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :