https://www.elaeis.co

Berita / Dewandaru /

Mental Suka Impor, Merusak Lapangan Kerja

Mental Suka Impor, Merusak Lapangan Kerja

Sapi di peternakan Pangkalan Bun Kalimantan Tengah. foto: ist


Dengan argumen demi meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Lalu kemudahan impor pangan ditingkatkan. Ini sesungguhnya kontradiktif, terlalu banyak hilang lapangan kerja kita.

Berikut ini indikator mutu manusia Indonesia yang jadi sebab lemah daya saingnya, sehingga butuh pangan bermutu yang cukup, terjangkau dan mudah diakses serta selalu tersedia stoknya;

Stunting kerdil kurang gizi dan retardasi kecerdasan. Prevalensinya 21,6%. Terbanyak ke 2 di Asean dan terbanyak ke 5 di Dunia. Batasan WHO maksimal 20% dan negara maju maksimal 5%.

Kecerdasan (IQ). Rerata IQ manusia Indonesia terendah di Asean, skornya hanya 78,49 sama dengan Timor Leste. Rerata dunia skornya 85. Hanya peringkat ke 126 dari 199 negara di dunia.

Baca juga: Badan Sawit Indonesia, Sebuah Harapan

Tinggi badan manusia Indonesia. Hasil survei terakhir hanya 158 cm saja. Peringkat terpendek ke 4 antar negara-negara di dunia. Ini manifestasi dari kualitas asupan pangannya.

Jumlah pengusaha Indonesia. Hanya 3,47% saja (Kemen Kop. UKM). Kalah dibandingkan dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Cerminan daya intuisi, inovatif dan daya nalar analisisnya.

Dari 4 indikator utama di atas hanya akibat saja. Bahwa kita "belum berhasil mengelola pangan kita". Tercermin dari peringkat ketahanan pangan Indonesia, kalah dengan Singapura, Malaysia dan Vietnam.

Implikasi lanjutannya. Karena minimnya jumlah pengusaha pencipta lapangan kerja hanya 3,47%. IQ nya hanya rerata 78,49 dan prevalensi stunting 25 tahun silam 37%. Kurangnya pendapatan per kapita rendah. 

Pendapatan per kapita rendah. Singapura 18 kali Indonesia. Malaysia 3 kali Indonesia dan Thailand 2 kali Indonesia. Akibat dari lapangan kerja sedikit dan banyak pengangguran. Sehingga kalah bersaing dengan impor lalu usaha tutup, cipta pengangguran.

Baca juga: Intelijen Bisnis

Konkretnya ;
Dulu serapan tenaga kerja banyak di peternakan sapi. Impor sapi siap potong dan daging kerbau maupun sapi banyak, peternakan sapi banyak tutup, pengangguran tercipta massal. Dampaknya pendapatan per kapita rendah.

Ekstremnya lagi, karena para jagal sapi berusaha agar tetap bisa menghidupi keluarga. Pada memotong sapi betina agar bisa bersaing dengan daging kerbau impor dari India. Terjadilah depopulasi sapi 2,4 juta ekor (BPS Sensus Pertanian 2023).

Padahal bijak cerdasnya, harus impor sapi betina produktif dibiakkan di Kalimantan sentra pakan murah misal limbah pabrik kelapa sawit solid dan bungkil sawit. Breeding. Agar jadi lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan per kapitanya.

Kalkulasi logisnya. Saat ini impor daging kerbau, daging sapi dan sapi hidup siap potong sekitar Rp48 triliun/tahun menguras devisa kita. Jika 1 keluarga butuh biaya hidup sehat sejahtera Rp 70 juta/tahun. Atau setara gaji Rp 6,5 juta/bulan.

Maka jumlah devisa tersebut jika dibelikan ke peternak kita setara bisa menghidupi Rp48 triliun: Rp70 juta/KK/tahun = 700.000 kepala keluarga. Artinya 700.000 keluarga hilang pekerjaan karena impor sapi dan daging kerbau sapi. Masyarakat makin tidak berdaya.

Ilmu hikmahnya. Impor pangan dalih agar pangan murah. Itu sesungguhnya sedang proses "melumpuhkan" daya kreatif dan kemandirian masyarakat kita. Inilah ancaman sangat serius bangsa kita saat ini. Pangan soal vital, jika gagal, bisa fatal. 



 

Wayan Supadno
Komentar Via Facebook :