Berita / Siku Kata /

Kearifan Stoic Lokal, Responsi Kebencanaan Sisian Mistikal

Kearifan Stoic Lokal, Responsi Kebencanaan Sisian Mistikal

Prof. Yusmar Yusuf (kaos putih) bersama tim dan mahasiswa UNRI. foto: dok. pribadi


Realitas muka bumi ialah kesalingan dalam kembaran-sisian; kosmos-kheos, tertata-kacau, aman-bencana, sehat-sakit, damai-perang, basah-kering, lembab-gering dan seterusnya. Inilah kenyataan hidup. 

Bencana musiman? Ya, di desa Pangkalan Jambi Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis, Riau, saban tahun diserbu “pasang keling” alias rob yang menggenangi kampung sepanjang pantai timur Sumatra itu. 

Letak desa ini berada di tumpuan segitiga arus. Pada posisi lengkung tumpahan dua muara sungai besar di Sumatra itulah desa ini berdiri. 

Kisaran 20 tahun lalu, bukan semata “pasang keling”, tapi jua gelegak dan tekanan arus membuat pengikisan bibir pantai yang rapuh. 

Kerapuhan ini ditodong lagi oleh marfologi tanah lempung dan gambut yang mengikat pantai. Tiada tempat bergayut tebing ini? Masih ada. 

Di sinilah peran “pengikat” yang disediakan oleh akar-akar mangrove (bakau/ baik keluarga Avicennia atau pun Rhizophora apiculata) dengan tampilan cangkang berbaris bak kaki para tentera Romawi.    

Garis pantai yang lunak dengan konfigurasi pantai longkah inilah yang disapa dalam bahasa tempatan sebagai kawasan baran: istana kekayaan hayati yang pernah dipercakapkan dalam Konferensi Rio (1983). 

Kawasan ini harus mendapat perhatian khusus. Karena kawasan inilah pengikat sebuah ruang dan nasionalitas’ bisa gegar, hancur, bahkan musnah. 

Kawasan ini (garis pantai) musnah, maka paku Sumatra bernama gunung Kerinci selaku paku tanah Sumatera akan luluh. 

Sebaliknya, jika gunung Kerinci meletus dan luluh, maka garis pantai tak terpengaruh sedikit pun, malah akan tumbuh tanah-tanah tajuk di garis pantai yang baru. 

Ada "penyakit turunan" yang diperoleh lewat kebakuan tindak laku negara yang disadur oleh pengelola kawasan mangrove di mana-mana (merata tempat di Indonesia); yaitu membuat papan pengumuman dengan sejumlah aturan baku dan sanksi hukum yang majal alias rongak (tak bergigi). 

Papan pengumuman tentang anturan dan sanksi itu sendiri adalah "sampah" di tengah kerumunan indah barisan cangkang kaki bakau menawan. 

Baca juga: Astana Herbal Lansekap Mangrove Pangkalan Jambi

Seakan-akan lewat papan pengumuman, semua orang yang berkunjung akan tertib-ria, berada pada puncak pesona akhlak terpuncak. Sebuah jalan manusia untuk memeluk alam. 

Sejatinya ketika kita melemparkan diri ke tengah ruang bernama kawasan mangrove, inilah saatnya yang tepat agar kita dipeluk alam. Bukan malah kita pula yang sok-sok memeluk alam. 

Berada dalam pelukan alam, kita menjalani program healing yang gahara alias sejati (penyembuhan syaraf-syaraf) dari segala ketegangan dan kekakuan yang telah berlangsung secara tak sadar dalam riuh-rendah keangkuhan hidup berkampung, berjiran dan berkota. 

Pengelola kawasan ini tak bisa dipersalahkan secara sepihak. Sebab mereka saban hari disuguhkan papan pengumuman (baliho) dari pemda di sepanjang jalan. Bahkan ada papan kecil di tengah jalan berlobang ditulis oleh Dinas PUPR dan Polisi berbunyi: "Hati-hati, jalan berlobang". 

Hai, duhai alangkah,... apakah ini tugas dan fungsi dinas PUPR dan Polisi? 

Lalu, saduran kesadaran stoici (kesadaran yang saling menguntungkan) ini menjadi penyelamat pantai, sekaligus garis kedaulatan negara. 

Bentuknya? Bukan aturan di papan pengumuman dan segala sanksi yang berujung penjara dan pemolisian. Tapi lewat kisah-kisah mistikal: di hutan mangrove itu ada penghuni jin bermata satu. 

Siapa yang pernah terserobok di dalam hutan, maka akan ditimpa tulah, penyakit, malah kematian. 

Untuk itu, datangilah kawasan itu dengan tertib, santun dan kesopanan dalam etika kemakhlukan demi merawat kesemestaan makhluk. 

Kisah mistikal ini telah berlangsung ratusan tahun di desa ini dan dijentera dalam model penceritaan turun-temurun (sosialisasi vertikal) kepada anak cucu. 

Pertemuan tali arus sebagai tumpuan massa tumpahan air selat Melaka lewat selat Bengkalis, desakan massa air dari selat Lalang dan tendangan arus dan material yang diangkut dan dimuntahkan oleh sungai Siak dan sungai Siput (Siak Kecil), menjadikan lengkung teluk Desa Pangkalan Jambi sebagai tumpuan akhir dari segala tendangan "tiga kaki" raksasa itu. 

Di sinilah pertemuan persilangan kaki arus raksasa itu bersua dan berjumpa. Titik "gemala segitiga bermuda" ini menjelma jadi garis magis yang tak bisa didatangi dengan semena-mena dan kesemberonoan tindakan. 

Jangan buang air (buang hajat/atau pun kencing) di pertemuan arus itu, akan mendapat tulah, beroleh petaka dan sejenis penyakit mematikan. 

Di situ "alam puaka" menjelma dalam khayali mistikal lokal. 

Tumpahan material bertahun-tahun dari sungai Siak, desakan massa air selat-selat, yang mengejar dan menendang teluk ini, maka terbitlah "tanah-tanah tajuk" dalam marfologi mengeras dan tak punya humus (tak subur). 

Inilah beting. Beting di sini seakan hasil dari konferensi para sampah, kapar, material yang dimuntahkan oleh mulut sungai Siak dan jingkangan massa arus selat-selat segitiga perairan Pangkalan Jambi dan Siak Kecil. 

Dua alur mistikal inilah dijadikan alat penyelamat atas desakan "wajib" kaum "digital nomade" hari ini yang bernafsu besar berakrobat mengubah ruang-ruang ekosistem mangrove menjadi tujuan wisata massif dalam semangat wisata dalam kadar mental "pasar kaget" dan mental "orgen tunggal". 

Ekosistem mangrove ini harus dijauhi dari segala bentuk polusi, utamanya polusi bunyi dan cahaya. Termasuk sampah saraf hasil rumah tangga (domestik), jua puntung rokok. 

Orang-orang kampung menerima bencana ini sebagai daur bagan kehidupan dalam nada stoa (bijak) yang tak gegar. 

Mereka tak berbondong-bondong mengusung kotak bencana yang ke pinggir-pinggir jalan raya dalam mental menadah dan menodong para pengguna jalan raya bergemuruh, melintas siang malam. 

Mistika, jadi satu kunci dalam temuan Riset "Mangrove Estuari, Sirkulasi Pembelajaran Habitat dan Mitigasi Bencana Estuari Pesisir Berbasis Kearifan Lokal (Telaah Analitik Stoik Berbasis Kebudayaan Melayu dalam Menanggapi Ruang dan Kebencanaan Estuari Pesisir)" oleh tim yang diterajui Drs. Syafrizal, M.Si dan Ketua KJFD Masyarakat dan Kebudayaan Aquatik Prof. Dr. Yusmar Yusuf. 

Tim ini dirimbuni sejumlah pakar inklusi sosial Dra. Risdayati, M.Si, Teguh Widodo dan Resdati, melibatkan 4 orang mahasiswa semester 7 program S-1. Penelitian tahap satu berlangsung sejak 3 Agustus sampai 7 Agustus 20023.


 

Yusmar Yusuf
Komentar Via Facebook :