Dana itu jangan habis untuk rapat dan seremonial. Dana itu harus menjadi modal masa depan. Dana itu harus menjadi modal perjuangan. Dana itu harus menjadi modal peradaban. Dana itu dapat digunakan untuk membangun jalan produksi.
Membiayai riset dan inovasi sawit.
Memberikan beasiswa kepada anak-anak petani. Membantu peremajaan kebun rakyat. Membangun pusat pelatihan petani modern. Mendirikan koperasi yang profesional.
Membangun pabrik kelapa sawit milik petani. Membangun industri hilir milik petani. Bahkan suatu hari nanti membangun lembaga keuangan, pusat riset, dan jaringan perdagangan yang dimiliki oleh petani sawit sendiri.
Mungkin hari ini terdengar seperti mimpi. Tetapi semua kemajuan besar selalu dimulai dari mimpi besar yang diperjuangkan bersama. Kita terlalu lama berpikir sebagai penjual buah.
Sudah saatnya kita mulai berpikir sebagai pemilik masa depan. Kemakmuran tidak lahir dari menjual bahan mentah selamanya. Kemakmuran lahir ketika kita mampu menguasai nilai tambah.
Ketika kita memiliki koperasi yang kuat. Ketika kita memiliki pabrik sendiri. Ketika kita memiliki industri sendiri. Ketika kita memiliki lembaga ekonomi yang bekerja untuk kepentingan petani.
Bayangkan sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan. Anak-anak petani sawit tidak hanya menjadi pekerja di kebun.
Mereka menjadi insinyur. Menjadi peneliti. Menjadi pengusaha. Menjadi pengelola industri hilir. Menjadi pemimpin koperasi modern. Menjadi generasi yang menguasai teknologi dan pasar.
Itulah yang saya sebut sebagai Peradaban Sawit Indonesia.
Peradaban yang dibangun dari kebun rakyat. Dibiayai oleh rakyat.
Dikelola oleh rakyat. Dan hasilnya kembali kepada rakyat.
Orang Bugis juga mengajarkan:
“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata.” Hanya dengan kerja keras, ketekunan, dan perjuangan, rahmat Tuhan akan datang.
Maka jangan pernah merasa kecil.
Jangan pernah merasa tidak berdaya. Jangan pernah merasa sendirian. Karena jika jutaan petani sawit bersatu, tidak ada kekuatan yang dapat mengabaikan suara mereka.
Dari Kebun Rakyat Menuju Peradaban Sawit Indonesia
Diskusi pembaca untuk berita ini