Jakarta, elaeis.co – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI), Dikki Akhmar, melontarkan kritik keras terhadap pola bisnis industri sawit nasional yang dinilai terlalu berorientasi pada keuntungan jangka pendek. 

Mentalitas instan para pelaku usaha yang hanya mengandalkan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) disebut menjadi salah satu penyebab utama rapuhnya kesejahteraan petani sawit di Indonesia.

Menurut Dikki, ancaman terbesar industri sawit nasional bukan berasal dari persaingan global maupun berbagai regulasi lingkungan Uni Eropa seperti EU Deforestation Regulation (EUDR), melainkan dari kegagalan pelaku industri dalam membangun hilirisasi di dalam negeri.

"Pengusaha kita senangnya serba instan, produksi lalu jadi uang. Minim biaya riset untuk mengembangkan hilirisasi produknya. Bisa jadi juga karena regulasi pemerintah selama ini belum mendukung tumbuhnya semangat itu," kata Dikki di Jakarta, Senin (8/6).

Ia menilai ketergantungan terhadap ekspor CPO mentah membuat harga tandan buah segar (TBS) petani sangat bergantung pada fluktuasi pasar internasional. 

Akibatnya, ketika terjadi hambatan perdagangan atau pelemahan harga global, petani swadaya menjadi pihak yang paling terdampak.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena industri sawit nasional masih terlalu fokus pada sektor hulu dan belum serius mengembangkan produk turunan bernilai tambah tinggi seperti oleochemical, oleofood, bahan bakar nabati, hingga produk kosmetik.

"Ketika ekspor terganggu, CPO menumpuk di dalam negeri dan beban akhirnya dilempar ke petani melalui penurunan harga TBS. Ini yang membuat petani selalu berada pada posisi rentan," ujarnya.

Dikki menegaskan, Indonesia sebenarnya tidak memiliki pesaing yang sebanding dalam industri sawit dunia. 

Karena itu, energi nasional seharusnya diarahkan untuk memperkuat industri pengolahan di dalam negeri, bukan sekadar mempertahankan status sebagai eksportir CPO terbesar dunia.

"Yang penting bukan sekadar ekspor CPO. Tapi bangun industri manufaktur dengan cepat yang bisa mengolah CPO menjadi berbagai produk turunannya. Itu yang utama," tegasnya.