Palu, elaeis.co – Upaya penguatan sumber daya manusia (SDM) sektor perkebunan kembali mendapat dorongan baru lewat Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 yang digelar di Kota Palu, Sulawesi Tengah. 

Program ini menjadi hasil kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, dan PT Daya Guna Lestari melalui DGL Learning Institute.

Kegiatan ini menyasar 119 pekebun kelapa sawit yang berasal dari Kabupaten Morowali. Mereka mengikuti rangkaian pelatihan intensif yang dirancang untuk menjawab tantangan di lapangan, mulai dari peningkatan produktivitas, pemahaman standar keberlanjutan, hingga penguatan kemampuan teknis berbasis praktik.

Sejumlah program pelatihan yang diberikan mencakup Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Angkatan I, Pelatihan Panen dan Pasca Panen Angkatan I dan II, serta Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan I.

Seluruh materi disusun agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya langsung di kebun masing-masing.

Direktur Utama PT Daya Guna Lestari, M. Gema Aliza Putra, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun kualitas SDM perkebunan Indonesia. 

Menurutnya, keberhasilan sektor perkebunan tidak hanya ditentukan oleh faktor lahan atau teknologi, tetapi terutama oleh kualitas manusia yang mengelolanya.

“Bagi kami di DGL Learning Institute, kegiatan ini bukan sekadar kelas pelatihan. Ini adalah amanah untuk hadir langsung di daerah, bertemu dengan pekebun, dan bersama-sama memperkuat kompetensi SDM perkebunan Indonesia,” ujarnya di Palu.

Ia menambahkan, perubahan besar dalam sektor perkebunan hanya bisa terjadi jika para pelaku di lapangan memiliki pemahaman yang kuat dan mau terus belajar. Produktivitas, kata dia, bukan sekadar hasil dari input produksi, tetapi juga dari kemampuan mengelola kebun secara tepat dan berkelanjutan.

“Kebun yang baik lahir dari petani yang paham. Produktivitas yang meningkat lahir dari ilmu yang diterapkan. Dan perkebunan yang berkelanjutan lahir dari sumber daya manusia yang terus mau belajar,” kata Gema.