Dalam pelatihan ini, materi Implementasi ISPO menjadi salah satu fokus utama. Standar ISPO tidak hanya diperkenalkan sebagai kewajiban administratif, tetapi juga sebagai sistem tata kelola perkebunan yang mencakup aspek legalitas, lingkungan, kelembagaan petani, serta praktik budidaya yang bertanggung jawab.
Peserta diberikan pemahaman mengenai bagaimana prinsip-prinsip ISPO dapat diterapkan secara langsung di lapangan, termasuk dalam pengelolaan kebun yang sesuai dengan ketentuan keberlanjutan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu pekebun meningkatkan daya saing sekaligus memastikan praktik usaha yang lebih ramah lingkungan.
Selain ISPO, pelatihan panen dan pasca panen juga menjadi materi penting dalam program ini. Para peserta dibekali teknik pemanenan yang benar, penentuan kematangan buah, hingga penanganan hasil panen agar kualitas tetap terjaga. Kesalahan dalam tahap panen, menurut para instruktur, sering kali berdampak langsung pada penurunan produktivitas dan pendapatan pekebun.
Tidak kalah penting, pelatihan teknik pemetaan lokasi kebun menjadi salah satu materi yang mendapat perhatian besar dari peserta. Dengan pendekatan ini, pekebun diajarkan cara membaca kondisi lahan secara lebih detail, memetakan blok tanaman, hingga mengidentifikasi potensi masalah di kebun secara lebih presisi.
Menurut Gema, pemetaan kebun menjadi langkah penting dalam modernisasi pengelolaan perkebunan rakyat. Dengan data yang lebih akurat, pekebun dapat mengambil keputusan yang lebih tepat, mulai dari pemupukan, perawatan tanaman, hingga perencanaan produksi.
“Dengan adanya kajian kebun, peserta dapat lebih memahami kondisi nyata di lapangan dan mencari solusi yang lebih tepat sesuai kebutuhan kebunnya. Jadi pelatihan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi menjadi proses yang berkelanjutan,” jelasnya.
Program ini juga dirancang untuk membangun perubahan pola pikir di kalangan pekebun. Tidak hanya fokus pada hasil jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan usaha perkebunan dalam jangka panjang. Pendekatan ini dinilai penting di tengah tantangan global yang semakin kompleks, termasuk tuntutan pasar terhadap produk sawit berkelanjutan.
Melalui kolaborasi ini, PT Daya Guna Lestari bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI berharap dapat memperkuat ekosistem perkebunan nasional, khususnya dalam meningkatkan kompetensi pekebun di daerah.
Gema juga menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak diukur dari jumlah peserta atau sertifikat yang diperoleh, melainkan dari sejauh mana ilmu yang diberikan benar-benar diterapkan di lapangan.
“Sertifikat bisa disimpan di map, tetapi ilmu akan hidup di kebun. Yang paling penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dan membawa perubahan nyata bagi pekebun,” tegasnya.
Ke depan, DGL Learning Institute menilai bahwa penguatan SDM akan menjadi fondasi utama dalam menghadapi persaingan industri perkebunan global.
Dengan SDM yang kompeten, produktivitas diharapkan meningkat, tata kelola menjadi lebih baik, dan prinsip keberlanjutan dapat diterapkan secara konsisten di seluruh lini perkebunan Indonesia.
Kolaborasi Perkuat SDM, 119 Pekebun Sawit di Morowali Dibekali Skill ISPO hingga Pemetaan Kebun
Diskusi pembaca untuk berita ini