Punya manajemen sendiri bukan berarti langsung membikin perjalanan KUD Mukti Jaya mulus. Sederet dinamika masih sering terjadi. Belum lagi soal kepercayaan anggota kepada pengurus KUD yang masih minim. 

Butuh waktu yang cukup panjang juga kata Bambang untuk membikin masyarakat kompak. Pentingnya berkelompok, terus kami gelorakan. Misalnya urusan membeli pupuk. Beli bareng ketimbang sendiri, akan lebih murah. 
"Tokoh-tokoh masyarakat kami kasi pemahaman, apa-apa yang penting kami musyawarahkan, kami terbuka, yang salah kami luruskan sama-sama. Alhamdulillah, perlahan perjalanan menjadi indah,” wajah Bambang sumringah.

Yang dimaksud oleh Bambang perjalanan indah tadi antara lain; Lantaran tak punya Iuran Dana Peremajaan Tanaman Kebun (Idapertabun), KUD Mukti Jaya memutuskan membikin program tambungan peremajaan. 

KUD dan Kelompok Tani bekerjasama membikin rekening yang diteken oleh tiga orang. Unit simpan pinjam pun dihidupkan di tiap kelompok.  

“Alhamdulillah saldo simpanan peremajaan yang terkumpul mencapai Rp100 miliar. Kalau dihitung-hitung, masing-masing anggota punya tabungan antara Rp40 juta hingga Rp50 juta. Lalu saldo simpan pinjam mencapai Rp20 miliar. Kami membolehkan anggota meminjam duit hingga Rp100 juta dengan jaminan sertifikat lahannya,” ujar Bambang. 

Selain duit-duit tadi, Jaminan Sosial Petani juga dibikin. Anggota yang meninggal dikasi santunan Rp2,5 juta, yang kecelakaan kerja hingga menimbulkan cacat tetap, diberikan Rp15 juta. 

Belakangan, KUD Mukti Jaya sedang membangun pabrik kelapa sawit sendiri pula.