Kantor KUD Mukti Jaya di jalan lintas Sungai Lilin. Foto: aziz

Hampir samalah kayak apa yang dirasakan oleh petani plasma pada umumnya, 12 tahun lalu, Bambang cs memutuskan untuk menjadi petani mandiri saja. 

Ada sederet alasan yang membikin mereka membulatkan tekad untuk berpisah. Ini bermula dari Bambang cs ketemu dengan pemilik perusahaan eks bapak angkat di Palembang. 

Di pertemuan itu, pemilik perusahaan bilang, enggak ada kewajiban perusahaan me-replanting kebun petani. "Sakit hati kami mendengar omongan itu," kenang Bambang.

Walau sudah bikin sakit hati, Bambang masih meladeni ajakan perusahaan berunding. Di perundingan itu Bambang minta konsep kerjasama seperti apa.

Sayang, sampai KUD mau replanting, konsep kerjasama itu tak kunjung nongol. "Enggak mungkin perusahaan sebesar itu tak bisa bikin Rancangan Anggaran Biaya (RAB). Mana mau kami kerja sama kalau cuma lewat omongan, kami ini bukan petani tahun 90-an lagi,” tegas Bambang. 

RAB tak nongol, perusahaan malah datang membawa hitungan cost replanting perhektar di atas Rp55 juta. Menurut perusahaan harga segitu sudah sesuai standar Dirjenbun. 

"Kami enggak mau. Harga segitu sangat mahal. Hitungan kami biaya replanting dari P0-P3 bisa kok di bawah Rp55 juta,” urai Ketua Asosiasi Petani Perkebunan Inti Rakyat (Aspek-PIR) Sumsel ini. 

Yang paling membikin Bambang kesal, oknum petinggi perusahaan ternyata menutup-nutupi informasi soal dana bantuan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa sawit (BPDPKS). 

"Kayaknya biar kami mau single management. Orang dari Jakarta malah sempat dibawa untuk mem-back up rencana single management itu," kata Bambang.
  
Malas berurusan dengan perusahaan, KUD pun bulat memutuskan replanting mandiri. Pesan anggota cuma satu; berapa nanti duit yang habis, segitulah beban petani. 

Hanya saja, saat replanting sudah dekat, masalah baru muncul pula. Rupanya anggota sudah menarik sebahagian besar duit simpanannya untuk membeli lahan baru. 

"Tujuan mereka sebenarnya baik. Lahan baru itu akan mereka tanam palawija untuk jaga-jaga selama kebun sawit belum menghasilkan. Tapi gara-gara itu, duit replanting mereka, cuma tinggal antara Rp10 juta-Rp15 juta. Mana cukup," Bambang tertawa.