Jakarta, elaeis.co – Program biodiesel berbasis kelapa sawit terus didorong sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. 

Namun, di balik ambisi tersebut, muncul peringatan agar pengembangan biodiesel jangan sampai mengorbankan kebutuhan pangan.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Hariyadi, menilai pemanfaatan sawit untuk energi harus dilakukan secara seimbang dengan kepentingan pangan dan tata ruang.

Menurutnya, kebijakan biodiesel tak bisa berdiri sendiri. Setiap keputusan terkait sawit berpotensi memberikan dampak ke sektor lain, termasuk ketersediaan lahan untuk produksi pangan.

“Keseimbangan peran sawit dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus transisi energi terbarukan melalui program biodiesel tanpa mengorbankan alokasi tata ruang lahan,” ujar Hariyadi dalam Forum Diskusi Terbatas yang digelar Rumah Sawit Indonesia (RSI), Senin (31/8/).

Peringatan tersebut menjadi penting di tengah semakin besarnya peran kelapa sawit sebagai bahan baku energi terbarukan. 

Pemerintah dan industri didorong tak hanya mengejar peningkatan produksi biodiesel, tetapi juga memperhitungkan fungsi lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Hariyadi mengatakan tantangan industri kelapa sawit saat ini juga semakin kompleks. Persoalannya bukan cuma soal meningkatkan produksi atau memperluas hilirisasi.

Industri sawit juga berhadapan dengan isu lingkungan, konflik agraria, legalitas lahan, efisiensi energi, sampai tuntutan keterlacakan rantai pasok dari pasar internasional.

Karena itu, pengelolaan sawit dinilai membutuhkan pendekatan yang melihat berbagai persoalan tersebut sebagai satu kesatuan.