Jakarta, elaeis.co – Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) menyoroti masih besarnya tantangan yang dihadapi pekebun sawit rakyat di tengah tuntutan Industri Kelapa Sawit Global.

Akses pembiayaan, teknologi, informasi, pasar, hingga peningkatan produktivitas disebut masih menjadi pekerjaan rumah.

Hal tersebut disampaikan Director of Sustainability and Smallholders CPOPC, Antonius Yudi Triantoro, M.A., dalam International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Antonius mengatakan pekebun kecil memiliki posisi strategis dalam perekonomian negara-negara produsen kelapa sawit. Namun, peran tersebut dinilai belum selalu ditempatkan secara proporsional dalam rantai industri sawit.

“Petani hanya dilihat sebagai salah satu faktor produksi di dalam rantai industri sawit. Kita lupa bahwa peran mereka sangat besar dalam menciptakan lapangan kerja di pedesaan, mengurangi kemiskinan, menggerakkan perekonomian, dan memperkuat ketahanan masyarakat pedesaan,” ujarnya.

Menurutnya, masa depan industri sawit tidak bisa dipisahkan dari masa depan pekebun rakyat. Karena itu, penguatan kapasitas pekebun harus menjadi bagian penting dalam membangun industri sawit yang berkelanjutan.

Antonius menyebut tantangan yang dihadapi pekebun rakyat di berbagai negara produsen cenderung memiliki kesamaan. Selain akses pembiayaan, mereka masih menghadapi keterbatasan teknologi, informasi, pasar, serta produktivitas.

Standar Global Harus Diikuti Dukungan

Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap penerapan standar keberlanjutan, Antonius menilai pekebun tidak bisa hanya dibebani kewajiban memenuhi berbagai aturan internasional.

Menurutnya, komunitas internasional perlu memastikan adanya dukungan yang memadai agar pekebun mampu memenuhi tuntutan tersebut.

“Komunitas internasional pada saat ini harus bertanya, dukungan apa yang harus diberikan kepada petani kecil untuk memenuhi kebijakan atau aturan internasional,” katanya.

Dukungan tersebut, lanjut Antonius, dapat berupa akses pengetahuan, teknologi, pembiayaan, informasi hingga pendampingan. Dengan dukungan itu, pekebun memiliki kapasitas yang lebih baik untuk memenuhi standar sekaligus meningkatkan produktivitas.

Ia menilai penguatan pekebun juga penting agar manfaat industri sawit tidak hanya dinikmati di tingkat rantai industri, tetapi turut dirasakan masyarakat pedesaan.