Jakarta, elaeis.co – Universitas Pancasila memperkenalkan inovasi mesin panen kelapa sawit bernama PALMA-X, sebuah alat bantu panen semiotomatis yang dilengkapi jaring penadah untuk menangkap tandan buah segar (TBS) sebelum menyentuh permukaan tanah.

Teknologi ini dikembangkan untuk mempercepat proses panen sekaligus menjaga kualitas buah dan mengurangi kehilangan hasil akibat brondolan yang berserakan.

Inovasi tersebut dipaparkan Ketua Tim Grant Riset BPDP Universitas Pancasila, Prof. Dr. Dede Lis Zarlatin, dalam sesi Peningkatan Efisiensi Melalui Inovasi Alat Bantu Panen Sawit pada ajang Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta.

Menurut Dede, pengembangan PALMA-X berangkat dari berbagai persoalan yang masih dihadapi perkebunan kelapa sawit, terutama pada proses pemanenan dan pengangkutan tandan buah segar yang masih banyak dilakukan secara manual.

"Riset ini berangkat dari persoalan sederhana yang dihadapi petani sawit di Indonesia. Teknologi yang kami kembangkan bukan sistem sepenuhnya otomatis, melainkan kendaraan dengan sistem kendali semiotomatis," ujar Dede.

Ia menjelaskan, PALMA-X mengintegrasikan proses pemanenan dan pengangkutan TBS dalam satu sistem kerja. Alat tersebut memanfaatkan kendaraan yang dilengkapi mekanisme panen sehingga tandan buah yang dipotong dapat langsung ditampung menggunakan jaring penadah sebelum jatuh ke tanah.

Dengan konsep tersebut, benturan buah dengan permukaan tanah dapat diminimalkan sehingga mutu TBS tetap terjaga. Selain itu, brondolan yang biasanya tercecer saat tandan dipanen juga dapat dikurangi sehingga lebih mudah dikumpulkan.

"Kami mencoba menangkap TBS sedekat mungkin dengan posisinya sehingga dapat mengurangi benturan ke tanah serta menjaga brondolan tidak berserakan agar lebih mudah dikumpulkan," katanya.

Dede mengatakan inovasi tersebut dikembangkan setelah tim peneliti melakukan pengamatan di sejumlah perkebunan kelapa sawit. Hasil survei menunjukkan proses pengangkutan TBS masih mengandalkan gerobak, sepeda motor yang dimodifikasi hingga dipikul menuju tempat pengumpulan hasil sebelum diangkut menggunakan truk.

Kondisi tersebut dinilai membuat proses panen menjadi kurang efisien, terlebih di tengah semakin terbatasnya tenaga pemanen di berbagai sentra produksi kelapa sawit.

"Hasil survei menunjukkan minat menjadi pemanen berkurang sehingga cukup sulit mencari tenaga panen. Bahkan ada pemanen yang harus berpindah dari satu kebun ke kebun lain karena kekurangan tenaga kerja," ungkapnya.