Jakarta, elaeis.co – Setelah pemerintah mendorong tercapainya swasembada pangan, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menilai tahun 2026-2027 menjadi momentum memperkuat swasembada perkebunan.
Targetnya bukan hanya meningkatkan produksi komoditas strategis, tetapi juga memperkuat hilirisasi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor sejumlah komoditas perkebunan.
Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Perkebunan: Kondisi Sosial Ekonomi Pekebun dan Hilirisasi Perkebunan Rakyat yang digelar DPN HKTI bersama Pemuda Tani HKTI di Jakarta, Selasa (30/6).
FGD dihadiri Ketua Bidang Perkebunan DPN HKTI Herdrajat Natawijaya, Dewan Kopi Indonesia Ir. Jamil Musanif, Ketua Organisasi Petani Tembakau Indonesia (OPTI) Mahmudi, Ir. Edi Sutopo, M.Si. dari Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Prof. Nelson dari Gorontalo sebagai tokoh perkelapaan Indonesia, perwakilan Duta Kopi Indonesia, Gerakan Edukasi Kopi, pengurus DPN HKTI dan DPP Pemuda Tani HKTI, serta Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil.
Sekretaris Jenderal Pemuda Tani DPN HKTI Suroyo mengatakan, setelah pemerintah berfokus pada swasembada pangan sepanjang 2025, kini saatnya sektor perkebunan menjadi perhatian bersama.
"Alhamdulillah swasembada beras sudah menunjukkan hasil, begitu juga jagung. Tahun 2026 kami ingin mulai fokus pada swasembada perkebunan. Karena itu seluruh pemangku kepentingan kami kumpulkan untuk mencari solusi atas berbagai persoalan di lapangan," ujar Suroyo.
Menurutnya, swasembada perkebunan bukan berarti menutup keran perdagangan internasional, melainkan memastikan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan bahan baku dalam negeri, meningkatkan produktivitas, memperkuat hilirisasi, sekaligus memperbesar ekspor komoditas unggulan.
Beberapa komoditas yang menjadi perhatian antara lain kopi, kakao, kelapa, kelapa sawit, tembakau, pala, lada, vanili, cengkeh, hingga rempah-rempah yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia.
Suroyo mengatakan regenerasi petani menjadi salah satu kunci keberhasilan. Selama ini banyak lulusan pertanian yang justru memilih bekerja di sektor lain, padahal perkebunan menawarkan peluang bisnis yang sangat besar.
"Petani itu bukan hanya petani padi. Ada petani kopi, kakao, kelapa, sawit, tembakau dan banyak komoditas lain yang punya nilai ekonomi tinggi. Kami ingin anak-anak muda menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton," katanya.
Menuju Swasembada Perkebunan, HKTI Ajak Generasi Muda Rebut Peluang Bisnis Bernilai Triliunan
Diskusi pembaca untuk berita ini