Jakarta, elaeis.co – Pemerintah mulai mendorong penguatan posisi Indonesia di pasar minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dunia melalui pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Skema ini ditargetkan dapat mengubah Indonesia dari sekadar pengikut harga (price taker) menjadi penentu harga (price maker) global, yang selama ini masih mengacu pada Bursa Malaysia dan Rotterdam.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menilai Indonesia sebenarnya sudah memiliki modal besar untuk mengendalikan harga CPO dunia.
Pasalnya, Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar minyak sawit global dengan pangsa sekitar 60 persen produksi dunia.
Namun, menurutnya, kekuatan tersebut belum optimal karena sistem perdagangan yang masih terfragmentasi.
“Selama ini jalur ekspor berjalan sendiri-sendiri sehingga bargaining power Indonesia lemah. Akibatnya harga masih mengikuti bursa luar negeri,” kata Tungkot.
Melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), pemerintah berupaya mengintegrasikan perdagangan ekspor komoditas strategis, termasuk sawit, dalam satu sistem nasional.
Dengan konsolidasi tersebut, Indonesia diharapkan memiliki kekuatan pasar yang lebih besar sehingga mampu mempengaruhi pembentukan harga global.
Jika seluruh transaksi ekspor terkonsolidasi, Indonesia dinilai berpeluang menjadikan harga CPO domestik sebagai acuan baru di pasar internasional, menggantikan dominasi Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMD) dan Rotterdam.
PASPI menjelaskan ada dua opsi skema yang tengah dipertimbangkan.
Pertama, DSI berperan sebagai trader yang membeli dan menjual CPO secara langsung ke pasar global.
DSI Ditargetkan Jadi Penentu Harga CPO Global dari Bursa Malaysia
Diskusi pembaca untuk berita ini