Menurut Midzon, kenaikan harga minyak dunia sangat berpengaruh terhadap industri produk perlindungan tanaman atau prolintan. Sebab, sekitar 85 hingga 90 persen bahan aktif pestisida yang digunakan di Indonesia masih berasal dari impor.

"Kondisi ini membuat biaya bahan baku meningkat. Kemasan plastik juga naik cukup tinggi. Akhirnya biaya produksi ikut meningkat," katanya.

Meski demikian, Midzon mengingatkan petani tidak boleh mengurangi penggunaan pestisida secara sembarangan. Sebab, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), penyakit dan gulma dapat menyebabkan kehilangan hasil panen hingga 30 sampai 40 persen.

"Produk perlindungan tanaman ini sangat penting. Kalau penggunaannya dikurangi tanpa perhitungan yang tepat, serangan hama dan penyakit bisa meningkat dan hasil panen akan turun," ujarnya.

Karena itu, ia mengimbau petani menggunakan pestisida secara lebih rasional dan sesuai kebutuhan. Penggunaan yang tepat tidak hanya membantu menjaga produktivitas, tetapi juga menghindarkan petani dari pemborosan biaya.

Midzon menambahkan, industri agroinput saat ini juga berupaya menahan kenaikan harga agar tidak semakin membebani petani. Namun, ia mengakui kemampuan industri untuk terus menahan harga memiliki batas.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, baik akibat perang, pelemahan rupiah maupun ancaman perubahan iklim, petani diminta menerapkan tiga langkah utama agar tetap memperoleh keuntungan. Pertama, menjadi petani yang lebih cerdas dalam mengambil keputusan usaha tani. Kedua, melakukan efisiensi penggunaan pupuk dan pestisida sesuai kebutuhan. Ketiga, memilih komoditas secara tepat berdasarkan kondisi pasar.

Karenanya, Petani harus semakin cerdas dan efisien. Jangan sampai biaya produksi membengkak, tetapi hasil yang diperoleh justru tidak sebanding. Salah strategi bisa berujung boncos.