Jakarta, elaeis.co – Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) memperkenalkan strategi komunikasi baru dalam menghadapi maraknya disinformasi seputar industri kelapa sawit global.

Organisasi negara produsen sawit tersebut kini mengandalkan generasi muda, khususnya Generasi Z, sebagai ujung tombak kampanye positif melalui program Young Elaeis Ambassador (YEA) Batch 2.

Program ini dirancang untuk membentuk duta muda lintas negara yang mampu menyampaikan informasi tentang sawit secara lebih mudah dipahami publik, terutama di ruang digital yang kini didominasi media sosial.

Wakil Sekretaris Jenderal CPOPC, Musdhalifah Machmud, menegaskan bahwa pola komunikasi publik mengenai sawit tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan konvensional seperti publikasi ilmiah dan laporan panjang. 

Menurutnya, perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat menuntut strategi baru yang lebih adaptif.

“Arus informasi di media sosial sangat cepat, tetapi tidak semuanya akurat. Karena itu kami melibatkan anak muda agar bisa menjadi jembatan informasi yang menyampaikan fakta sawit dengan cara yang lebih dekat dengan generasinya,” ujar Musdhalifah dalam kegiatan Meet the Young Elaeis Ambassadors Batch 2 di Jakarta, Kamis (11/6).

Program YEA Batch 2 merupakan lanjutan dari pelaksanaan perdana yang sebelumnya mendapat respons positif. Pada tahun ini, jumlah peserta meningkat dengan cakupan isu yang lebih luas, mencakup nutrisi, aksi iklim, inovasi produk turunan sawit, ekonomi sirkular, hingga keberlanjutan industri.

CPOPC menilai generasi muda memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik, terutama di tengah meningkatnya isu negatif seperti deforestasi, dampak lingkungan, hingga tudingan terkait kesehatan produk sawit. Melalui program ini, para peserta diharapkan mampu memahami rantai nilai industri secara langsung sebelum menyampaikan informasi kepada publik.

Dalam pelaksanaannya, peserta YEA mengikuti program induksi selama enam hari yang berlangsung di Malaysia dan Indonesia pada 7–12 Juni 2026. Selama kegiatan tersebut, mereka mendapatkan akses langsung ke berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pembuat kebijakan, lembaga riset, organisasi sertifikasi, perusahaan, hingga kunjungan lapangan ke sektor perkebunan dan pengolahan sawit.

Director of Sustainability and Smallholders CPOPC, Antonius Yudi Triantoro, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya melibatkan peserta dari negara produsen sawit, tetapi juga negara konsumen. Tahun ini, peserta berasal dari Indonesia, Malaysia, Ghana, Guatemala, India, dan Pakistan dengan latar belakang profesi yang beragam.

“Ada yang berasal dari sektor daur ulang, keamanan siber, hingga keluarga petani sawit. Mereka datang dengan perspektif berbeda, sehingga diskusi menjadi lebih kaya,” kata Antonius.