Produk gula merah dari nira sawit tersebut dipasarkan dengan harga berkisar Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Dari usaha yang dijalankannya, Edi mampu memproduksi sekitar satu ton gula merah setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar.
Potensi nira sawit juga didukung hasil kajian akademik. Dosen Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Negeri Pontianak, Ledy Purwandani, menyebut nira sawit memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga layak dikembangkan sebagai bahan baku industri pangan.
Berdasarkan hasil penelitian, nira sawit mengandung glukosa dalam jumlah dominan, disertai sukrosa dan total gula yang cukup tinggi. Kandungan tersebut membuatnya berpotensi diolah menjadi berbagai produk olahan, termasuk gula merah.
Pemanfaatan batang sawit tua menjadi gula merah dinilai mampu membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat, terutama di daerah sentra perkebunan yang sedang menjalankan program peremajaan sawit.
Peluang itu semakin besar karena luas areal replanting di Indonesia terus bertambah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Kalimantan Barat saja memiliki sekitar 1,1 juta hektare perkebunan sawit, dengan lebih dari 203 ribu hektare telah memasuki masa peremajaan.
Artinya, jutaan batang sawit tua berpotensi dimanfaatkan sebelum akhirnya menjadi limbah. Jika dikelola secara optimal, nira sawit dapat menjadi komoditas baru yang memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mendukung pengembangan ekonomi berbasis perkebunan.
Pemanfaatan limbah batang sawit menjadi gula merah juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular karena hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan kembali.
Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, inovasi ini turut mengurangi limbah perkebunan dan memperkuat nilai tambah industri sawit nasional di luar produksi minyak sawit.
Batang Sawit Bekas Replanting Ternyata Bernilai, Begini Cara Mengubahnya Jadi Gula Merah
Diskusi pembaca untuk berita ini