Banjarbaru, elaeis.co - Kalimantan Selatan (Kalsel) merupakan salah satu wilayah yang menjadi sentra kelapa sawit di Indonesia. Sayangnya produksi kebun kelapa sawit di wilayah itu cenderung turun hingga saat ini.
Cerita Samsul Bahri selaku Ketua Apkasindo Kalsel penurunan produksi itu paling besar disebabkan oleh banyaknya kebun kelapa sawit masyarakat yang sudah berusia tua. Bahkan sudah ada yang lebih dari 25 tahun.
Namun, kondisi itu justru harus terus ditelan petani sebab sampai saat ini petani masih kesulitan untuk mengajukan peremajaan lewat program PSR yang digawangi Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP). Akhirnya petani harus pasrah dengan hasil kebun tidak maksimal.
"Persyaratan untuk mengajukan PSR cukup banyak. Bahkan menyulitkan petani," ujarnya kepada elaeis.co, Kamis (9/7).
Hingga kini lanjutnya, tidak sedikit petani yang justru mengaku tidak sanggup untuk memenuhi persyaratan itu. Terutama bagi petani mandiri atau swadaya.
"Malah ada petani yang harus turun sendiri untuk mengurus rekomteknya. Ini jadi masalah sampai saat ini," sambungnya
Seharunya kata Samsul, petani mendapat dukungan dari pemerintah untuk peremajaan ini. Sehingga produksi meningkat dan kesejahteraan semakin terjamin.
Padahal sepanjang 2026 ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui Disbun Kalsel menargetkan peremajaan sawit seluas 1.600 hektar. Target ini seiring dengan masih banyaknya kebun sawit berusia tua dan tidak produktif tadi.
Peremajaan tersebut difokuskan di lima kabupaten sentra kelapa sawit di Kalsel. Yakni di Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tanag Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru.
Banyak Tanaman Tua dan Tidak Produktif, Tapi Petani Kesulitan Mengajukan PSR
Diskusi pembaca untuk berita ini