Berita / PSR /

Ekonomi Sirkular, Solusi Hilangnya Pendapatan Petani Sawit Peserta PSR

Ekonomi Sirkular, Solusi Hilangnya Pendapatan Petani Sawit Peserta PSR

Budidaya jagung di area replanting sawit berumur 1 tahun seluas 20 hektar di Kobar. foto: BRIN


Jakarta, elaeis.co - Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Namun saat ini banyak tanaman sawit milik petani umurnya sudah lebih dari 25 tahun. Produktivitas tanaman turun karena umurnya sudah di atas umur produktif maksimal sawit sehingga perlu dilakukan peremajaan melalui replanting.

Terkait hal tersebut, pemerintah tengah menggalakkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai upaya meningkatkan kembali produktivitas tanaman perkebunan kelapa sawit. Secara nasional, pemerintah menargetkan peremajaan kebun sawit milik petani seluas 540.000 hektar hingga tahun 2024. Kobar termasuk penerima alokasi anggaran untuk kegiatan replanting dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Dampak proses peremajaan sendiri tidak bisa langsung dirasakan mengingat tanaman sawit mulai berproduksi aktif sekitar umur 4-5 tahun. Untuk itu diperlukan hadirnya sumber-sumber ekonomi baru bagi petani. Kepala Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (PR SPBPDH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nugroho Adi Sasongko menyebutkan, pihaknya saat ini tengah melakukan penelitian terkait ekonomi sirkular sebagai alternatif waktu tunggu masa peremajaan sawit.

“Riset ini terkait optimalisasi pemanfaatan area replanting sawit untuk pengembangan jagung dan ternak unggas guna mewujudkan ekonomi sirkular bagi masyarakat di Kobar,” ujar Nugroho dalam rilis Humas BRIN, kemarin.

Menurutnya, ekonomi sirkular adalah kegiatan yang berwawasan lingkungan, yaitu melalui pengembangan industri hijau. Model yang digunakan adalah dengan berupaya memperpanjang siklus hidup dari suatu produk, bahan baku, dan sumber daya yang ada agar dapat dipakai selama mungkin. Implementasi ekonomi sirkular di lapangan adalah pengurangan timbunan limbah dan polusi.

Kegiatan penelitian yang dilaksanakan terkait dengan kegiatan pertanian terpadu (integrated farming) yang berorientasi lingkungan. Saat ini permasalahan lingkungan menjadi isu yang strategis tak terkecuali pada sektor pertanian. Karena lingkungan merupakan suatu ekosistem yang memang harus dijaga kelestasiannya. Selain itu perubahan iklim global juga selalu menjadi isu sentral di bidang pertanian.

“Menyikapi dinamika tersebut, konsep pertanian berkelanjutan dipandang sebagai solusi dan salah satu contohnya adalah kegiatan integrated farming yang sedang kami lakukan di Kobar dengan memunculkan kegiatan ekonomi sirkular pedesaan,” jelasnya.

Periset PR SPBPDH, Ermin Widjaja menyampaikan, riset ini baru berjalan satu tahun. Idealnya, untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, setidaknya riset berjalan selama dua tahun. "Namun demikian hasil sementara yang diperoleh sudah dapat memberikan gambaran prospek dari kegiatan ini," tukasnya.

Tersedianya lahan sela sangat luas di area replanting sawit bisa dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas lain baik berupa tanaman pangan maupun tanaman hortikultura selagi tanaman sawit belum berbuah (umur 3-4 tahun). Dengan begittu, muncul kegiatan ekonomi baru selama tanaman sawit belum menghasilkan.

“Penelitian ini melakukan rintisan kegiatan ekonomi sirkular yang mampu meningkatkan pendapatan kelompok tani sawit peserta PSR lebih dari 50%,” paparnya.

Rintisan kegiatan ekonomi sirkular yang dijadikan sebagai percontohan ini melibatkan 20 anggota kelompok tani yang berada di Kobar. “Kegiatan yang dilakukan meliputi budidaya jagung di area replanting sawit berumur 1 tahun seluas 20 hektar. Lalu juga ada pembuatan pupuk organik yang diperkaya dengan mikroba, dengan bahan dasar limbah pabrik kelapa sawit seperti abu boiler, solid sawit, serat perasan buah/fiber, kotoran ayam dan decomposer. Selain itu ada budidaya ayam petelur sebanyak 1000 ekor dengan menggunakan campuran pakan lokal untuk menekan harga pakan pabrik yang mahal,” ungkapnya.

Ermin menyebut bahwa dari kegiatan tersebut memberikan sumber penghasilan baru untuk petani sawit yang terintegrasi dengan usaha lainnya, sehingga menghasilkan ekonomi sirkular yang menambah pendapatan petani. "Sumber pendapatan baru itu berupa produksi jagung, produksi telur, dan produksi pupuk organik yang memiliki pangsa pasar bagus," sebutnya.

Kegiatan ini dapat dilakukan pada masyarakat sawit yang sudah berkelompok dan tergabung pada kelembagaan yang memiliki modal seperti KUD. Hal ini dikarenakan modal yang diperlukan cukup besar untuk kegiatan replanting yang terintegrasi dengan komoditas jagung dan ternak unggas secara terpadu dan berkelanjutan, sehingga memerlukan dukungan dari pemerintah.

Ermin berharap, kegiatan ini bisa menjadi model dan direplikasi lokasi lain yang memiliki potensi yang serupa. Komoditasnya (tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan lain-lain) bisa disesuaikan dengan peluang kegiatan bisnis di lokasi tersebut. Mengingat hasil kegiatan pertanian terpadu yaitu produksi tanaman sela jagung, produksi pupuk organik dan produksi telur dari budidaya ayam petelur dengan pakan introduksi, dapat meningkatkan pendapatan lebih dari 100%.

“Untuk mengetahui keberlanjutan kegiatan integrasi ini secara terukur, dilakukan analisis dengan menggunakan metode Multidimension Scale (MDS) dengan hasil indek keberlanjutannya masuk dalam kategori baik (good sustainability). Analisis dampak lingkungannya dilakukan dengan Life Cycle Assessment (LCA) dan emisi gas rumah kaca sedang dalam pelaksanaan,” terang Ermin.


 

Komentar Via Facebook :