Merauke, elaeis.co - Sebanyak sembilan marga di Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, memulai pembangunan kebun sawit plasma yang akan dikelola secara mandiri. 

Langkah ini ditandai dengan pelaksanaan upacara adat sebagai simbol dimulainya pengembangan kebun seluas sekitar 3.700 hektare yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi masyarakat adat.

Upacara adat yang digelar Koperasi Inggyash Ghuzi menjadi bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus penanda bahwa seluruh tahapan perizinan pembangunan kebun telah diselesaikan. 

Program tersebut menjadi salah satu model pengembangan perkebunan sawit berbasis masyarakat adat dengan pola pengelolaan mandiri.

Ketua Koperasi Inggyash Ghuzi sekaligus Ketua Marga Koula, Richard Nosal Koula, mengatakan pembangunan kebun plasma ini telah lama menjadi harapan masyarakat di Distrik Ulilin.

"Kami berharap setelah acara adat ini, pembukaan lahan dan penanaman kelapa sawit bisa segera dilaksanakan dengan target 500 hektare pada tahun pertama, kemudian dilanjutkan lebih luas lagi pada tahun kedua dan ketiga, sehingga total mencapai 3.700 hektare," ujar Richard, Selasa (28/7). 

Koperasi Inggyash Ghuzi yang berdiri sejak 2016 menjadi wadah usaha bersama bagi sembilan marga dalam mengembangkan perkebunan sawit berbasis masyarakat adat. Saat ini koperasi telah mengantongi Hak Guna Usaha (HGU) seluas 4.607,2 hektare.

Dari total luas tersebut, sekitar 3.756 hektare akan dimanfaatkan sebagai areal perkebunan sawit, sedangkan sekitar 852 hektare tetap dipertahankan sebagai kawasan Nilai Konservasi Tinggi (NKT). Langkah ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Dalam pelaksanaannya, Koperasi Inggyash Ghuzi menggandeng PT Bangun Papua Luhurkarya (BPL) sebagai mitra pendamping pembangunan dan pengelolaan kebun. Perusahaan tersebut akan memberikan pendampingan sesuai penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP) agar produktivitas kebun dapat optimal.