Jakarta, elaeis.co – Pemerintah menetapkan Harga Referensi (HR) minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) untuk periode Juli 2026 turun menjadi USD 1.000,90 per metrik ton (MT).
Penurunan ini mengindikasikan pelemahan pasar sawit global yang dipicu tekanan permintaan internasional dan tren penurunan harga energi dunia.
Angka HR CPO tersebut turun USD 28,61 atau 2,78 persen dibandingkan periode Juni 2026 yang tercatat sebesar USD 1.029,51 per MT.
Penetapan ini sekaligus menjadi dasar pengenaan Bea Keluar (BK) serta tarif layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BLU BPDP) atau pungutan ekspor (PE).
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana menyebut penurunan HR CPO mencerminkan dinamika pasar global yang tengah melemah.
“HR CPO periode Juli 2026 turun dibandingkan periode sebelumnya. Ini dipengaruhi pelemahan permintaan global, terutama dari India sebagai salah satu negara importir utama, serta penurunan harga minyak mentah dunia yang menekan harga minyak nabati,” ujar Tommy, Selasa (30/6).
Sejalan dengan penetapan HR tersebut, pemerintah menetapkan Bea Keluar CPO sebesar USD 148 per MT.
Sementara itu, pungutan ekspor (PE) atau tarif layanan BLU BPDP ditetapkan sebesar 12,5 persen dari HR CPO, atau setara USD 125,11 per MT.
Kebijakan ini mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 38 Tahun 2024 jo PMK Nomor 68 Tahun 2025 serta PMK Nomor 69 Tahun 2025 jo PMK Nomor 9 Tahun 2026.
Untuk produk turunan berupa minyak goreng RBD palm olein dalam kemasan bermerek dengan berat maksimal 25 kilogram, pemerintah juga menetapkan Bea Keluar sebesar USD 33 per MT sesuai daftar merek yang diatur dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1503 Tahun 2026.
HR CPO Juli 2026 Turun ke USD 1.000, Pasar Sawit Global Mulai Goyah
Diskusi pembaca untuk berita ini