Penetapan HR CPO periode Juli 2026 dihitung berdasarkan rata-rata harga periode 20 Mei hingga 19 Juni 2026 dari tiga sumber, yakni Bursa CPO Indonesia sebesar USD 890,84 per MT, Bursa CPO Malaysia sebesar USD 1.110,97 per MT, dan harga CPO Rotterdam sebesar USD 1.468,28 per MT.
Namun sesuai ketentuan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35 Tahun 2025, apabila terdapat selisih rata-rata harga yang signifikan, maka penetapan HR dilakukan dengan menggunakan dua sumber harga yang berada pada posisi median dan terdekat dari median.
Dengan mekanisme tersebut, HR CPO Juli 2026 akhirnya ditetapkan berdasarkan harga Bursa CPO Malaysia dan Indonesia.
Di sisi lain, komoditas biji kakao mengalami tren kenaikan. HR biji kakao Juli 2026 ditetapkan sebesar USD 3.969,56 per MT, naik USD 137,39 atau 3,59 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ini juga mendorong HPE biji kakao menjadi USD 3.646 per MT, naik USD 134 atau 3,83 persen.
Pemerintah menetapkan BK kakao sebesar 7,5 persen, sama dengan tarif pungutan ekspor.
“Peningkatan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi gangguan pasokan akibat cuaca buruk serta penurunan produksi di negara-negara produsen utama di Afrika Barat,” jelas Tommy.
Untuk komoditas kehutanan, Harga Patokan Ekspor (HPE) getah pinus tercatat naik menjadi USD 1.002 per MT, meningkat USD 22 atau 2,24 persen dibandingkan periode Juni 2026. Kenaikan ini mencerminkan penguatan permintaan di pasar global.
Sementara itu, HPE produk kayu menunjukkan pergerakan yang bervariasi.
Sejumlah produk seperti veneer dari hutan alam serta kayu olahan jenis tertentu dari kelompok eboni, pinus, gmelina, dan sengon mengalami kenaikan.
HR CPO Juli 2026 Turun ke USD 1.000, Pasar Sawit Global Mulai Goyah
Diskusi pembaca untuk berita ini