"Dari 86 nominator, ada 4 orang apoteker. Saya satu-satunya yang tidak bergelar profesor. Dari 86 itu bisa dihitung jari yang bergelar S2, sisanya kalau bukan profesor ya doktor," ungkapnya.
Dia mengaku saat ini belum memikirkan target produksi karena permintaan pasar belum terlalu banyak.
Sabun mereka Arkawa (arang aktif cangkang sawit) buatannya, misalnya, baru bisa dipasarkan tahun 2022 meski sudah bisa diproduksi pada tahun 2020. "Suasana masih pandemi, prosesnya berjalan lambat," ujarnya.
"Saya sudah ikut beberapa kali pameran di beberapa kota di Indonesia untuk mengenalkan produk saya," tambahnya.
Di Tangan Perempuan ini, Limbah Sawit Jadi Bahan Baku Kosmetik
Diskusi pembaca untuk berita ini