Jakarta, elaeis.co – Peluncuran buku “Dari Loyang Jadi Emas” jadi momen penting bagi tokoh industri sawit, Sahat M. Sinaga, untuk menyuarakan kegelisahan sekaligus menawarkan solusi konkret bagi masa depan sawit nasional.
Acara yang digelar Rabu (15/4) di The Westin Jakarta itu tak sekadar seremoni. Di hadapan para undangan dari pemerintah, akademisi, hingga pelaku industri, Sahat blak-blakan mengungkap berbagai persoalan yang selama ini membayangi sektor kelapa sawit.
Baca Juga: Buku Baru Sahat Sinaga Resmi Rilis: Kisah Keras Anak Desa yang Taklukkan Industri Sawit
Menurutnya, persoalan paling krusial ada di sisi hulu hingga hilir, terutama teknologi pengolahan yang dinilai belum efisien.
Ia menyoroti banyaknya pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia yang jumlahnya sudah menembus sekitar 1.340 unit, namun masih menggunakan pendekatan lama yang berdampak pada tingginya emisi karbon.
“Kalau dihitung, emisinya bisa mencapai sekitar 60 juta ton CO2 ekuivalen per tahun. Ini angka yang tidak kecil,” ujarnya.
Kondisi ini, kata Sahat, menjadi tantangan serius di tengah tekanan global terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Jika tidak dibenahi, industri sawit Indonesia bisa makin terdesak di pasar internasional.
Nah, dari situ ia menawarkan pendekatan baru. Sahat memperkenalkan teknologi pengolahan berbasis dry process, sebuah metode yang berbeda dari sistem konvensional wet process yang selama ini umum dipakai.
Lewat teknologi ini, ia mengembangkan produk bernama DPMO (Degummed Palm Mesocarp Oil). Produk tersebut disebut memiliki nilai lebih, mulai dari kandungan fitonutrien yang tinggi hingga vitamin yang lebih terjaga.
Yang menarik, bukan cuma kualitas produk yang ditingkatkan. Dari sisi lingkungan, teknologi ini diklaim mampu menekan emisi karbon hingga 78 persen dan tidak menghasilkan limbah cair.
“Artinya, kita bisa produksi lebih bersih sekaligus lebih bernilai,” jelasnya.
Buku yang diluncurkan Sahat juga mengupas sisi personal perjalanan hidupnya. Ia bercerita tentang masa kecil di Samosir, tumbuh di keluarga petani yang membuatnya akrab dengan kerja keras sejak dini.
Ia mengenang bagaimana sejak kecil sudah membantu orang tua sebelum berangkat sekolah. Pengalaman itu yang kemudian membentuk karakter dan daya juangnya.
Perjalanan hidupnya berlanjut saat ia menempuh pendidikan Teknik Kimia dan lulus pada 1973. Bekal tersebut membawanya masuk ke dunia industri, termasuk berkarier di perusahaan global Unilever.
Di sana, ia mendapatkan banyak pelajaran penting, terutama soal pola pikir. Salah satu yang paling membekas adalah dorongan untuk tidak mudah menyerah.
“Saya diajarkan untuk tidak mengenal kata ‘tidak bisa’. Semua tantangan harus dicari jalan keluarnya,” katanya.
Momen yang cukup mengubah arah inovasinya terjadi beberapa tahun lalu, sekitar 2016–2017. Saat itu, ia mendapat masukan dari rekan industri asal Afrika yang mengkritik kualitas minyak sawit Indonesia.
Alih-alih tersinggung, Sahat justru menjadikan kritik itu sebagai bahan evaluasi. Dari situlah lahir ide untuk mengembangkan metode baru yang kini ia dorong sebagai solusi industri.
Lewat buku “Dari Loyang Jadi Emas”, Sahat ingin menyampaikan pesan bahwa sawit Indonesia harus naik kelas. Tidak lagi sekadar menjual bahan mentah, tapi mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi.
“Sawit harus jadi sumber kesejahteraan, terutama bagi petani,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberpihakan pada petani bukan sekadar wacana. Latar belakangnya sebagai anak petani membuat isu tersebut selalu menjadi fokus utama dalam setiap gagasan yang ia dorong.
Acara peluncuran buku ini turut dihadiri berbagai pihak, mulai dari perwakilan kementerian, akademisi dari Institut Teknologi Bandung, hingga organisasi profesi seperti Persatuan Insinyur Indonesia.
Di akhir acara, Sahat berharap bukunya bisa menjadi pemantik semangat, terutama bagi generasi muda di sektor pertanian dan industri.
“Ini bukan sekadar kisah hidup, tapi perjalanan panjang sawit Indonesia dan peluang besarnya ke depan,” tutupnya.
Momen Launching Buku, Sahat Sinaga Tawarkan Solusi Pangkas Emisi Sawit 78 Persen
Diskusi pembaca untuk berita ini