Dari sisi produksi, Malaysia masih mencatat kenaikan kumulatif 1,5 persen secara tahunan dalam periode Januari–Mei 2026, meski mengalami koreksi bulanan pada Mei. Persediaan akhir CPO Malaysia juga meningkat tipis menjadi 3,1 juta ton, menandakan adanya tekanan sementara di sisi ekspor.
Di sisi lain, pasar mulai mengantisipasi potensi kenaikan harga CPO pada semester II-2026. Faktor utama yang mendukung prospek tersebut adalah potensi pengetatan pasokan global seiring implementasi mandatori biodiesel B50 di Indonesia, yang diperkirakan meningkatkan serapan domestik.
Selain faktor harga dan pasokan, sentimen positif juga ditopang oleh pandangan bahwa risiko kebijakan DSI tidak sebesar yang dikhawatirkan sebelumnya. Dengan struktur baru yang lebih berperan sebagai penghubung ekspor, pasar menilai margin produsen relatif tetap terjaga.
Namun demikian, pelaku pasar masih mencermati kebijakan terkait harga tandan buah segar (TBS) yang disebut-sebut akan dinaikkan sekitar 10 persen untuk mendukung petani. Hingga saat ini, kebijakan tersebut belum diterapkan di lapangan dan harga masih mengikuti mekanisme pasar.
Indo Premier memperkirakan, jika kebijakan tersebut benar-benar dijalankan, terdapat potensi tekanan terhadap laba emiten sawit dalam rentang 3–39 persen pada periode 2026–2028, dengan dampak terbesar diperkirakan dialami emiten yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan eksternal.
Meski demikian, dengan meredanya kekhawatiran terhadap DSI serta dukungan valuasi yang lebih menarik pasca koreksi harga saham, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perkebunan sawit.
Investor kini kembali masuk ke saham-saham sawit dengan fokus pada emiten yang memiliki efisiensi produksi tinggi dan eksposur kuat terhadap ekspor, di tengah ekspektasi pemulihan harga CPO pada paruh kedua 2026.
Kekhawatiran PT DSI Mereda, Emiten Sawit Kembali Diserbu Pasar
Diskusi pembaca untuk berita ini