Berita / Bisnis /
Harga Pakan Mahal? Bungkil Inti Sawit Jadi Alternatif Murah, Efisiensi Capai 20 Persen
Ilustrasi - bungkil sawit
Jakarta, elaeis.co – Kenaikan harga bahan baku pakan ternak dalam beberapa tahun terakhir mendorong peternak mencari alternatif yang lebih ekonomis.
Salah satu solusi yang kini banyak dilirik adalah pemanfaatan bungkil inti sawit atau Palm Kernel Expeller (PKE), produk sampingan industri kelapa sawit yang terbukti mampu menekan biaya pakan hingga 20 persen.
Pemanfaatan bungkil inti sawit dinilai menjadi langkah strategis bagi peternak ruminansia di Indonesia, terutama di tengah mahalnya harga konsentrat impor. Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah di dalam negeri, bahan pakan ini menawarkan efisiensi biaya sekaligus mendukung kemandirian pakan nasional.
Mengutip informasi dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Minggu (8/3), penggunaan Palm Kernel Expeller atau Bungkil Inti Sawit (BIS) mampu menekan biaya produksi pakan ternak sekitar 14 persen hingga 20 persen.
Efisiensi tersebut terjadi karena bahan baku bungkil inti sawit tersedia dalam jumlah besar di sentra industri kelapa sawit, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang memiliki banyak pabrik pengolahan sawit.
Bungkil inti sawit sendiri merupakan hasil sampingan dari proses pengolahan inti kelapa sawit. Prosesnya dimulai ketika tandan buah segar (TBS) diolah di pabrik kelapa sawit untuk menghasilkan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) serta biji sawit yang dikenal sebagai kernel.
Kernel tersebut kemudian dikirim ke fasilitas pengolahan khusus yang disebut Kernel Crushing Plant (KCP). Di fasilitas ini, inti sawit diproses menggunakan mesin pengepres mekanis atau screw press untuk menghasilkan minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO).
Sisa padatan dari proses pengepresan tersebut kemudian menjadi bungkil inti sawit. Volume produksinya cukup besar, yakni sekitar 40 persen hingga 45 persen dari total berat inti sawit yang diproses.
Meski merupakan produk sampingan, bungkil inti sawit bukanlah limbah. Bahan ini justru memiliki nilai ekonomi tinggi karena mengandung nutrisi penting yang dibutuhkan ternak.
Badan Standardisasi Nasional (BSN) bahkan telah menetapkan standar mutu bungkil inti sawit melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 7856:2017.
Dalam standar tersebut, bungkil inti sawit memiliki kandungan protein kasar minimal sekitar 14 persen hingga 16 persen. Kandungan ini menjadikannya sebagai sumber protein yang cukup baik dalam formulasi pakan ternak.
Selain itu, kadar lemak kasar dalam bungkil inti sawit dibatasi maksimal sekitar 9 persen hingga 10 persen. Sementara kandungan serat kasar memiliki batas maksimal antara 16 persen hingga 20 persen.
Standar mutu lainnya juga mengatur bahwa kadar air tidak boleh melebihi 12 persen, sementara kadar abu maksimal berada di kisaran 5 persen hingga 6 persen.
Selain kandungan protein dan lemak, bungkil inti sawit juga mengandung berbagai mineral penting yang dibutuhkan ternak, seperti fosfor, seng, dan mangan. Mineral tersebut berperan dalam pembentukan tulang serta mendukung pertumbuhan ternak secara optimal.
Pemanfaatan bungkil inti sawit paling banyak dilakukan pada kelompok ternak ruminansia seperti sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba. Sistem pencernaan hewan ruminansia dinilai sangat cocok dengan karakteristik serat kasar yang terdapat pada bahan pakan ini.
Beberapa laporan bahkan menunjukkan bahwa penggunaan bungkil inti sawit pada sapi potong mampu meningkatkan pertambahan bobot badan harian hingga rata-rata 0,61 kilogram per hari selama masa pemeliharaan.
Namun untuk jenis ternak unggas seperti ayam atau bebek, penggunaan bungkil inti sawit memerlukan proses tambahan. Biasanya bahan ini difermentasi terlebih dahulu untuk menurunkan kadar serat kasar sehingga lebih mudah dicerna oleh unggas.
Pemanfaatan bungkil inti sawit juga mencerminkan penerapan konsep industri tanpa limbah atau zero waste dalam sektor perkebunan kelapa sawit. Hampir seluruh bagian dari proses pengolahan sawit dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
Dengan memanfaatkan bahan pakan berbasis bungkil inti sawit, peternak tidak hanya mendapatkan efisiensi biaya produksi, tetapi juga ikut mendukung pemanfaatan sumber daya dalam negeri secara optimal.
Ke depan, pemanfaatan produk sampingan sawit seperti bungkil inti sawit diharapkan dapat memperkuat kemandirian sektor peternakan Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku pakan impor yang selama ini membebani biaya produksi peternak.









Komentar Via Facebook :