Limapuluh Kota, elaeis.co - Sejumlah petani di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), mulai melirik untuk membudidayakan tanaman kelapa sawit menyusul harga sejumlah komoditas perkebunan yang selama ini menjadi andalan tak kunjung membaik di pasaran.

"Ya, coba-coba," kata Syakban, seorang petani, yang mengaku membuka lahan seluas dua hektar untuk ditanami kelapa sawit. Sebelumnya lahan itu dipenuhi berbagai jenis tanaman.

Syakban yang lama merantau di Provinsi Riau itu, mengaku tertarik bertanam sawit melihat kondisi perekonomian para petani sawit di Riau yang lumayan memadai.

Begitu mudik ke kampungnya, beberapa waktu lalu, Syakban menebangi sejumlah tanaman di kebunnya, untuk kemudian diganti dengan tanaman kelapa sawit.

Coni, petani lainnya di nagari yang sama, juga mengaku tertarik membudidayakan kelapa sawit karena sejumlah komoditas perkebunan yang selama ini menjadi andalan harganya tidak kunjung bergerak naik di pasaran.

"Kita seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti," katanya. Maksudnya, kebun karet dan gambir selama ini dipertahakankan kalau sesuatu waktu harganya membaik di pasaran.

Coni tidak terlalu mempedulikan topografi kawasan tempat ia berusaha yang berbukit-bukit. Dengan dibantu anaknya, seluas tiga hektar lahan yang sebelumnya diisi tanaman berbagai komoditas, ditebangi untuk kemudian diganti dengan bibit kelapa sawit.

Informasi yang diterima menyebutkan, harga karet sejak beberapa bulan belakangan tidak pernah melewati angka Rp6.000/kg di tingkat pedagang pengumpul. Ketika masa jaya, harga karet pernah menembus angka Rp22.000/kg.

Sementara harga gambir fluktuatif, antara Rp20.000 sampai Rp30.000/kg di tingkat pedagang pengumpul. Ketika masa keemasan, harga komoditas perkebunan yang satu ini pernah menembus angka Rp125.000/kg.