Sementara itu, Dewan Pakar Agroinput sekaligus Dewan Pembina Allishter, Midzon Johannis, mengatakan industri produk perlindungan tanaman atau prolintan menghadapi tekanan yang bahkan lebih kompleks.

Menurut dia, sekitar 85-90 persen bahan aktif pestisida nasional masih berasal dari impor. Sebagian besar pasokan tersebut berasal dari Tiongkok, sementara seluruh formulasi pestisida sangat bergantung pada bahan turunan minyak bumi.

"Semua komponen dalam formulasi pestisida berbasis minyak, mulai dari bahan aktif, pelarut, adjuvan, hingga bahan tambahan lainnya. Jadi ketika harga minyak naik, biaya produksi otomatis ikut meningkat," ujar Midzon.

Tak hanya bahan baku, lonjakan harga juga terjadi pada sektor kemasan. Harga bahan plastik untuk botol dan jeriken pestisida dilaporkan mengalami kenaikan hingga 50-100 persen, sehingga semakin menekan struktur biaya industri.

Menurut Midzon, perusahaan saat ini memilih masuk ke mode survival dengan menekan margin keuntungan seminimal mungkin.

"Sekarang banyak perusahaan berada dalam mode survive. Margin diperkecil, bahkan kalau perlu tidak ada margin sama sekali. Yang penting perusahaan tetap berjalan dan pasokan untuk petani tidak terganggu," katanya.

Ia memperkirakan tensi konflik global masih tinggi dan berpotensi berlangsung hingga akhir tahun. Karena itu, industri memilih bertahan sambil melihat perkembangan dua hingga tiga bulan ke depan.

"Kalau situasi memburuk, tentu perusahaan akan mengambil kebijakan bisnis baru. Tetapi sekarang fokusnya adalah bertahan hidup dulu," ujarnya.

Selain konflik geopolitik, ancaman El Nino juga menjadi faktor yang patut diwaspadai karena berpotensi mengganggu produksi pangan nasional.

Di tengah tekanan tersebut, Ayub mengingatkan petani agar semakin cerdas dalam mengelola biaya produksi. Penggunaan pupuk dan pestisida harus dilakukan secara efisien dan sesuai kebutuhan agar tidak terjadi pemborosan.

"Petani harus cerdas. Pupuk digunakan secukupnya, pestisida harus tepat waktu dan tepat dosis. Jangan berlebihan karena itu justru menjadi pemborosan bagi petani sendiri," kata Ayub.

Meski menghadapi tekanan berlapis, pelaku industri optimistis sektor pertanian Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat menghadapi berbagai krisis.

Pengalaman selama pandemi Covid-19 hingga krisis ekonomi 1998 menunjukkan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang paling mampu bertahan ketika berbagai sektor lain mengalami perlambatan. 

Kini, di tengah gejolak perang dan ancaman iklim, industri agroinput kembali diuji untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan nasional.