Jakarta, elaeis.co - Upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) sektor sawit Indonesia makin serius. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) tengah menyiapkan skema baru “link and match” antara dunia kampus dan industri sawit. 

Skema ini disebut akan membuat kurikulum pendidikan tinggi tidak lagi berjalan sendiri, tapi wajib mengikuti standar kebutuhan industri.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menyampaikan hal tersebut dalam Media Briefing Beasiswa SDM Sawit 2026 yang digelar di Ballroom BPDP, Jakarta.

Menurutnya, kolaborasi antara BPDP dan GAPKI bukan sekadar formalitas kerja sama, tetapi masuk ke level yang lebih dalam, yakni penyusunan kurikulum pendidikan dan penyiapan program kampus yang benar-benar sesuai kebutuhan industri sawit nasional.

“GAPKI itu kita libatkan dalam banyak hal, termasuk penyiapan perguruan tinggi dan program-programnya. Jadi bukan hanya soal beasiswa, tapi bagaimana kurikulumnya bisa link and match dengan industri,” ujar Alfansyah.

Ia menegaskan, pendekatan baru ini dilakukan karena kebutuhan tenaga kerja di sektor sawit semakin kompleks. Industri tidak hanya membutuhkan lulusan yang paham teori, tetapi juga siap kerja dengan kompetensi teknis yang sesuai standar perusahaan.

Dalam skema yang sedang disiapkan, BPDP mendorong adanya forum pertemuan langsung antara industri dan perguruan tinggi. 

Forum ini nantinya menjadi ruang “blended meeting”, di mana kampus, perusahaan, dan lembaga pendidikan bisa duduk bersama membahas kebutuhan nyata di lapangan.

“Bulan depan kita sudah ada forum pertemuan industri dan perguruan tinggi. Bukan riset saja, tapi lebih ke implementasi. Kita blending antara kebutuhan industri dan kampus,” jelasnya.