Selain manfaat teknis, integrasi sapi–sawit juga dinilai memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Model ini disebut dapat membuka sumber pendapatan baru bagi petani dan pelaku usaha, menciptakan arus kas tambahan, mengoptimalkan lahan yang sudah ada, serta memperkuat ekonomi pedesaan.
Meski demikian, BRIN mengakui implementasi SISKA masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kesiapan infrastruktur, model bisnis, hingga adopsi teknologi di tingkat lapangan. Karena itu, diperlukan peta jalan pengembangan yang sistematis agar integrasi sapi dan sawit dapat diterapkan secara luas dan berkelanjutan.
Ke depan, BRIN mendorong agar pengembangan SISKA tidak hanya menjadi konsep riset, tetapi benar-benar diimplementasikan secara bertahap di berbagai daerah sentra sawit.
Dengan optimalisasi potensi 16 juta hektare lahan sawit, Indonesia dinilai berpeluang memperkuat produksi protein hewani nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor daging.
16 Juta Hektare Sawit Bisa Jadi Mesin Produksi Daging Nasional
Diskusi pembaca untuk berita ini