Jakarta, elaeis.co – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai potensi besar perkebunan kelapa sawit Indonesia yang mencapai lebih dari 16 juta hektare dapat dimanfaatkan sebagai “mesin produksi” daging nasional melalui sistem integrasi sapi dan kelapa sawit (SISKA). 

Skema ini dipandang strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan impor daging sapi.

Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, mengatakan Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional. 

Di sisi lain, luas perkebunan sawit yang sangat besar, sekitar 57 persen dari total kebun sawit dunia menjadi peluang yang belum dimaksimalkan untuk produksi pangan hewani.

“Ketergantungan Indonesia pada impor sapi dan daging masih menjadi tantangan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Santoso dalam Seminar Nasional bertajuk Peningkatan Produksi Protein Hewani Nasional Berbasis Integrasi Sapi–Sawit Skala Besar pada rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum.

Menurut Santoso, integrasi sapi dengan perkebunan sawit dapat menjadi solusi untuk menekan biaya produksi yang selama ini menjadi hambatan utama usaha sapi potong. Salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi adalah pakan, yang kerap membuat peternakan konvensional tidak efisien.

“Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi sapi potong,” katanya.

Selain tingginya biaya pakan, sektor peternakan sapi di Indonesia juga masih menghadapi kendala lain seperti ketergantungan pada impor bakalan, keterbatasan lahan hijauan pakan, serta fluktuasi harga di pasar global.

Melalui pendekatan SISKA, lahan perkebunan sawit tidak hanya berfungsi sebagai penghasil minyak kelapa sawit, tetapi juga menjadi ruang produksi pakan alami dan area penggembalaan sapi. Integrasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi lahan sekaligus produktivitas ternak.

BRIN juga mendorong penerapan inovasi teknologi melalui program SiPANDAI (Si Pakan dan Nutrisi Asli Indonesia). Program ini mencakup pengembangan teknologi pakan konsentrat, pakan aditif untuk meningkatkan performa sapi, probiotik berbasis kelapa sawit, teknologi silase, hingga biofertiliser dan biogas.

“Penerapan SISKA yang dikelola secara optimal berpotensi meningkatkan produktivitas ternak, menjaga kesehatan tanah, menekan emisi, menambah pendapatan pelaku usaha, serta memperkuat keberlanjutan sistem produksi,” ujar Santoso.