https://www.elaeis.co

Berita / Nasional /

Kajian IPB: Hanya 3 Persen Perkebunan Sawit Berasal dari Hutan Primer

Kajian IPB: Hanya 3 Persen Perkebunan Sawit Berasal dari Hutan Primer

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Yanto Santoso.


Jakarta, elaeis.co – Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Yanto Santoso memaparkan data ilmiah yang menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan kelapa sawit bukan menjadi penyebab tunggal hilangnya hutan primer di Indonesia.

Berdasarkan kajian perubahan tutupan lahan di sejumlah provinsi, Yanto menyebut proses degradasi hutan kerap terjadi jauh sebelum sawit ditanam. Hal itu terlihat dari riwayat penggunaan lahan yang telah mengalami gangguan lebih dulu.

“Hasil penelitian menunjukkan hanya sekitar 3 persen areal kelapa sawit yang benar-benar berasal dari konversi hutan primer,” kata Yanto, dikutip dari laman IPOSS, Kamis (29/1).

Menurutnya, temuan tersebut penting untuk memberi perspektif yang lebih proporsional dalam perdebatan isu lingkungan. Angka itu sekaligus membantah anggapan bahwa seluruh perkebunan sawit dibangun dengan menggunduli hutan alam yang masih utuh.

Dalam kajian tersebut, peneliti menganalisis kebun rakyat maupun perusahaan di berbagai wilayah. Hasilnya, sekitar 76 persen areal sawit berasal dari hutan yang telah mengalami gangguan sebelumnya. Sebagian lainnya berasal dari bekas kawasan transmigrasi, lahan pertanian masyarakat, serta bekas aktivitas sektor lain.

Yanto menjelaskan, kondisi ekologis hutan yang telah terganggu berbeda jauh dengan hutan primer. Lahan tersebut umumnya telah mengalami penurunan kualitas vegetasi akibat aktivitas sebelumnya.

“Di beberapa wilayah seperti Sumatera, pembukaan lahan sudah lebih dulu dilakukan untuk komoditas lain. Sawit kemudian masuk sebagai tanaman pengganti,” ujarnya.

Ia menambahkan, perubahan tutupan lahan merupakan proses panjang yang melibatkan berbagai sektor ekonomi. Karena itu, diskusi mengenai deforestasi tidak bisa disederhanakan dengan menempatkan sawit sebagai satu-satunya penyebab.

Yanto menekankan pentingnya membedakan status awal lahan dalam menilai dampak ekologis. Konversi hutan primer, kata dia, memiliki dampak paling besar terhadap keanekaragaman hayati, sementara konversi lahan yang sudah terbuka sebelumnya memiliki risiko lingkungan yang jauh lebih rendah.

“Pendekatan berbasis data sangat penting agar kebijakan pengelolaan perkebunan sawit bisa lebih adil dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Kajian dari International Panel on Social, Sustainability, and Environmental Studies (IPOSS) ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam membangun narasi industri kelapa sawit Indonesia yang lebih objektif dan berimbang.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :