Menurut dia, peserta harus memahami sejak awal skema beasiswa yang diikuti, termasuk syarat administratif, latar belakang pendidikan, dan keterkaitan jurusan yang dipilih dengan sektor sawit. 

Kesalahan kecil pada dokumen maupun ketidaksesuaian jalur pendaftaran bisa berdampak fatal karena membuat peserta gagal melangkah ke tahapan berikutnya.

Farhan menilai, panitia seleksi juga memperhatikan kesesuaian minat dan bidang yang dipilih peserta dengan kebutuhan pengembangan industri sawit. 

Hal itu, kata dia, bisa terlihat dari latar belakang pendidikan, pengalaman organisasi, hingga aktivitas yang pernah diikuti peserta.

Ia menambahkan, wawancara menjadi salah satu tahap paling menentukan karena pada fase ini peserta tidak lagi hanya dinilai dari dokumen atau nilai akademik, melainkan dari cara mereka menjelaskan tujuan dan motivasi secara langsung.

“Di wawancara biasanya ditanya tujuan kita, kenapa pilih sawit, jadi jawabannya harus jelas dan sesuai dengan kondisi kita,” katanya.

Menurut Farhan, konsistensi menjadi kunci utama dalam tahapan wawancara. Jawaban peserta harus sejalan dengan dokumen pendaftaran, pilihan jurusan, serta visi pribadi yang ingin dibangun melalui program beasiswa tersebut. 

Peserta yang memiliki alasan kuat dan realistis dinilai lebih berpeluang lolos dibanding mereka yang menjawab secara umum tanpa arah yang jelas.

Ia juga menekankan pentingnya memahami gambaran industri sawit sebelum mengikuti tes. Pengetahuan dasar tentang perkebunan sawit, peran sawit dalam perekonomian, tantangan keberlanjutan, hingga peluang pengembangan hilirisasi bisa menjadi nilai tambah saat peserta menjalani tes pengetahuan maupun wawancara.

“Yang lolos itu biasanya yang punya arah dan tahu mau berkontribusi seperti apa di sektor sawit,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi gambaran bahwa seleksi Beasiswa SDM Sawit tidak hanya mencari peserta berprestasi secara akademik, tetapi juga calon generasi muda yang memiliki visi terhadap masa depan industri sawit Indonesia. 

Karena itu, pemahaman tentang sawit dipadukan dengan kesiapan mental, kemampuan akademik, dan motivasi pribadi menjadi kombinasi yang penting dalam penilaian.

Dengan waktu tes yang tinggal menghitung hari, para peserta diimbau mulai mempersiapkan diri secara matang. Selain mempelajari materi akademik dan latihan TPA, peserta juga perlu menyiapkan pemahaman dasar tentang sektor sawit, menata kembali tujuan mengikuti program, serta melatih kemampuan komunikasi untuk menghadapi wawancara.

Beasiswa SDM Sawit sendiri menjadi salah satu program strategis untuk mencetak SDM unggul di sektor perkebunan, baik dari kalangan pekebun, keluarga pekebun, maupun masyarakat umum yang ingin berkontribusi pada penguatan industri sawit nasional. 

Program ini diharapkan dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memahami kebutuhan riil sektor sawit dari hulu hingga hilir.

Kini, setelah tahapan pendaftaran resmi berakhir, fokus peserta beralih pada ujian seleksi yang akan menentukan langkah mereka selanjutnya.