Jakarta, elaeis.co – Kelapa sawit bukan lagi sekadar komoditas andalan ekspor. Di tengah memanasnya persaingan ekonomi dunia, sawit telah menjelma menjadi senjata diplomasi ekonomi yang mampu menentukan posisi tawar Indonesia di panggung internasional.
Namun, kekuatan tersebut dinilai akan sulit dipertahankan apabila persoalan tata kelola di dalam negeri tak segera dibenahi.
Pesan itu mengemuka dalam Majelis Planters Indonesia (MPI) Vol. 2 bertema Ekonomi Politik Perkebunan: Perkebunan Kelapa Sawit sebagai Instrumen Ketahanan Pangan, Energi, dan Kedaulatan Bangsa yang digelar, Minggu (5/7).
Ketua Umum Asosiasi Planters Muda Indonesia (APMI), Muhammad Nur Fadillah, mengatakan Indonesia saat ini memproduksi sekitar 58 persen minyak sawit dunia.
Dominasi tersebut menjadikan Indonesia sebagai aktor utama dalam rantai pasok minyak nabati global yang memasok kebutuhan industri pangan, kosmetik hingga energi terbarukan.
Menurutnya, besarnya pangsa produksi tersebut merupakan modal geopolitik yang tidak dimiliki banyak negara.
"Selama Indonesia mampu mempertahankan posisi sebagai produsen sawit terbesar dunia, kita memiliki daya tawar yang sangat kuat dalam percaturan ekonomi global. Sawit bukan hanya komoditas ekspor, tetapi instrumen diplomasi ekonomi Indonesia," ujarnya.
Fadillah menilai, besarnya pengaruh Indonesia pernah terlihat ketika pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan ekspor minyak sawit.
Kebijakan tersebut langsung memengaruhi harga dan pasokan minyak nabati dunia, sekaligus menunjukkan bahwa keputusan Indonesia mampu menggerakkan pasar global.
Ia menambahkan, posisi strategis Indonesia semakin diperkuat melalui kerja sama dengan Malaysia dalam Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).
Melalui organisasi tersebut, negara-negara produsen memiliki ruang yang lebih besar untuk menghadapi berbagai kebijakan perdagangan internasional yang dinilai kurang berpihak kepada industri sawit.
"Melalui kolaborasi antarnegara produsen, Indonesia memiliki peluang lebih besar memperjuangkan kepentingan sawit di tingkat global," katanya.
Sawit Jadi Senjata Diplomasi, APMI Minta Tata Kelola Dibenahi
Diskusi pembaca untuk berita ini