Rengat, elaeis.co - Berkebun kelapa sawit petani kudu pinter memutar otak. Khususnya dalam menekan biaya perawatan sekaligus meningkatkan produktifitas kebun kelapa sawit yang dimiliki.
Cara itulah yang dipakai oleh Yanto Efendi, salah satu petani di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Dia bisa dibilang sukses mengembangkan perkebunan tanaman tersebut. Pria kelahiran 1965 asal Asahan Sumatera Utara itu merawat kebun kelapa sawitnya lebih cenderung menggunakan pupuk organik.
Yanto memanfaatkan tandan kosong (tankos) atau yang sebagian orang kenal dengan sebutan janjangan kosong. Bukan hanya itu, dia juga menggunakan abu limbah pembakaran pabrik kelapa sawit. Tak lupa juga menggunakan limbah ternak.
"Kita pakai pupuk organik sejak tahun 2010. Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan," ujar pria bermarga Panjaitan tersebut saat berbincang dengan elaeis.co, Jumat (8/4/2022).
Yan, begitu sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa penggunaan pupuk organik itu untuk merawat kebunnya yang kini sudah seluas 18 hektare. Awalnya dia hanya memiliki 10 hektare lahan di Desa Pematang Jaya, Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu, Riau tersebut.
"Alhamdulillah 80 persen hasil kebun masuk kantong dengan menggunakan pupuk organik ini. Kalau pakai kimia paling besar kita terima hasil hanya 50 persen saja," katanya.
Yan menceritakan sejak menggunakan pupuk organik yang didapatnya dari sebuah pabrik yang tak jauh dari tempat tinggalnya itu, hasil panennya dapat meningkat 50 persen dari lahan yang menggunakan pupuk kimia.
Seperti kondisi trek saat ini, dari 10 hektare dia bisa panen hingga 8-9 ton. Sedangkan dibandingkan dengan lahan di wilayah yang sama dengan luasan yang juga serupa, hanya mengahasilkan 4 ton dengan putaran 15 hari sekali atau dua kali dalam sebulan.
Bukan hanya itu, biaya perawatan juga lebih hemat. Seperti hitungannya, ia menerapkan pupuk organik itu satu tahun sekali. Sedangkan pupuk kimia putarannya 3 sampai 6 bulan sekali. Sementara biaya yang dikeluarkan sama besarnya.
"Misalnya pupuk kimia dan organik sama habisnya Rp3 juta. Tapikan kita hanya setahun sekali. Nah kalau pupuk kimia bisa sampai 4 kali dalam satu tahun," kata mantan sopir truk lintas Medan - Jakarta tersebut.
"Kalau bicara hasil jangan ragu. Jadi tak perlu khawatir dengan harga pupuk kimia yang tinggi, kita bisa pakai pupuk organik. Malah cenderung lebih bagus. Saat ini hasil kebun saya bisa dibeli Rp3.420 per kilogram," imbuhnya.
Sawit Diberi Pupuk Organik, Hasil Panen Yanto Melonjak
Diskusi pembaca untuk berita ini