Jakarta, elaeis.co - Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menjadi salah satu sentra penelitian yang ditugaskan untuk mengembangkan kelapa sawit. Berbagai varietas kelapa sawit unggul yang diciptakan oleh PPKS juga telah diluncurkan.
Ratnawati Nurkhoiry, salah seorang Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) mengatakan, saat ini ada 14 varietas yang masih dipasarkan oleh PPKS. Itu merupakan varietas terbaru yang diperkenalkan sejak 1984.
"Saat ini varietas PPKS yang masih dipasarkan itu varietas yang kita kenalkan mulai tahun 1984 sampai 2017," kata Ratnawati saat menjadi pembicara dalam webinar yang digelar belum lama ini.
Di tahun 1984, kata dia, ada dua varietas kelapa sawit yang diluncurkan PPKS. Yaitu varietas DyxP Sungai Pancur 1 atau Dampy dan varietas DxP SP 540 atau Sungai Pancur 2.
"Meskipun ini varietas lama tapi masih digemari. Kemudian tahun 1985 itu ada 6 varietas, yaitu Bah Jambi, Dolok Sinumbah, Marihat, AVROS, Yangambi dan La Me. Ini juga masih banyak digemari petani," ujarnya.
Kemudian tahun 2003, PPKS memperkenalkan varietas Simalungun dan Langkat. Ratnawati mengatakan, Simalungun merupakan varietas yang paling banyak digemari karena produksinya yang lebih cepat.
"Simalungun terkenal dengan quick starternya. Quick starternya bisa kita lakukan asal saat TBM kita melakukan perawatan prima sesuai standarnya, sehingga dia bisa menghasilkan lebih cepat, yaitu 32 bukan sudah bisa produksi," katanya.
Dia mengatakan, bahkan di tahun 2021, dari 33 juta total benih yang dipasarkan PPKS, 40 persennya merupakan benih varietas Simalungun.
"Kemudian di tahun 2007 kita ada varietas PPKS 540 atau yang dikenal dengan high mesocarp. Varietas ini lebih banyak mengandung minyak kelapa sawitnya. Kemudian ada PPKS 718 atau yang dikenal dengan big bunch," tambahnya.
Selanjutnya di tahun 2010, PPKS juga merilis varietas DP PPKS 239. Dan yang paling terbaru, di tahun 2017, di mana PPKS mengeluarkan varietas DxP 50 NG dengan kriteria moderate, resistance dan ganoderma.
"Jadi varietas ini merespon kondisi saat ini yang banyak terjadi endemi ganoderma, terutama di daerah yang sudah tanam ulang kedua atau ketiga," ujarnya.
Dijelaskan Ratnawati, saat ini pihaknya masih terus melakukan penelitian untuk mengembangkan varietas dari kelapa sawit.
"Ini merupakan intensifikasi, yaitu peningkatan produktivitas tanpa kita harus menambah lahan. Kemudian ke depan juga ada tantangannya, yaitu tanaman itu harus tahan ganoderma, tahan kekeringan, efisien terhadap unsur hara, kemudian dari segi kualitas memiliki tinggi olein dan vitamin E. Beberapa hal yang akan kita kejar untuk terus mendukung intensifikasi kelapa sawit," pungkasnya.
Mau Tau Apa Saja Varietas Sawit Ciptaan PPKS Simak Ini
Diskusi pembaca untuk berita ini