Berita / Bisnis /
Konflik Global, Sinyal Sawit Bullish! Harga CPO 2026 Diprediksi Terus Ngebut
Jakarta, elaeis.co – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan masih melaju kencang sepanjang 2026. Ketatnya pasokan jangka pendek dan meningkatnya permintaan berbasis energi menjadi pendorong utama tren kenaikan tersebut, di tengah memanasnya konflik global.
Laporan terbaru dari Hong Leong Investment Bank Bhd (HLIB) memproyeksikan harga CPO pada 2026 mencapai RM4.350 per ton. Angka ini naik RM150 dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Bahkan, pada kuartal II 2026, harga diperkirakan menyentuh kisaran RM4.500 hingga RM4.600 per ton sebelum mulai terkoreksi secara bertahap pada paruh kedua tahun.
“Setiap kenaikan RM100 per ton dalam proyeksi harga CPO dapat meningkatkan laba perusahaan perkebunan sekitar tiga hingga delapan persen,” tulis HLIB dalam laporannya dikutip dari BERNAMA, Minggu (5/4).
HLIB menilai faktor fundamental berupa pasokan yang lebih ketat dalam jangka pendek menjadi penopang utama harga. Produksi yang belum sepenuhnya pulih, ditambah faktor biaya input yang meningkat, membuat suplai global terbatas.
Namun, dalam jangka panjang, harga diperkirakan mulai stabil. HLIB mempertahankan proyeksi harga jangka panjang di level RM4.200 per ton mulai 2027, seiring normalisasi kondisi pasokan global.
“Pasokan akan membaik secara bertahap, sehingga harga kembali bergerak lebih stabil,” tulis manajemen.
Selain faktor pasokan, dinamika geopolitik global juga memberi dampak signifikan terhadap harga CPO. Konflik di kawasan Asia Barat memicu lonjakan harga energi sekaligus mengganggu rantai pasok global.
Kondisi ini secara tidak langsung mengangkat harga komoditas energi dan turunannya, termasuk minyak nabati seperti CPO.
Gangguan logistik akibat konflik juga menciptakan premi harga sementara, sementara kenaikan biaya pupuk berpotensi mendorong peralihan komoditas ke kedelai. Hal ini dinilai bisa menahan kenaikan harga dalam jangka menengah.
HLIB menyoroti pergeseran peran CPO yang kini semakin erat kaitannya dengan harga energi global, khususnya minyak mentah. Dalam kondisi harga minyak tinggi, permintaan terhadap biodiesel meningkat, sehingga mendorong konsumsi minyak nabati.
“CPO kini berfungsi sebagai substitusi minyak mentah. Ketika harga minyak naik, permintaan biodiesel meningkat dan memperkuat posisi CPO sebagai komoditas energi,” tulis HLIB.
Fenomena ini membuat pergerakan harga CPO semakin sensitif terhadap dinamika pasar energi global, bukan hanya faktor pertanian semata.
Rekomendasi Overweight untuk Sektor Perkebunan
Seiring prospek harga yang masih positif, HLIB mempertahankan rekomendasi “overweight” untuk sektor perkebunan. Perusahaan hulu dinilai lebih diuntungkan karena memiliki kontrol lebih baik terhadap biaya produksi dan margin.
Perusahaan dengan biaya input yang terkunci dan visibilitas margin yang kuat diprediksi mampu mencatatkan kinerja lebih stabil di tengah volatilitas pasar.
Meski prospek harga terlihat bullish, pelaku pasar tetap diminta mewaspadai sejumlah risiko, termasuk normalisasi pasokan global, fluktuasi harga energi, hingga perubahan pola tanam akibat kenaikan biaya produksi.
Namun dalam waktu dekat, kombinasi antara pasokan ketat dan dorongan permintaan energi diperkirakan masih menjadi bahan bakar utama kenaikan harga CPO.
Dengan kondisi tersebut, sektor sawit dipandang masih berada dalam fase positif, seiring meningkatnya peran strategisnya dalam rantai pasok energi global.









Komentar Via Facebook :