Babel, elaeis.co - Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Bangka Belitung (Babel) H. Sahuruddin mengatakan, karena terkendala keterbatasan dana, banyak petani sawit di daerah itu membutuhkan program peremajaan sawit rakyat (PSR) untuk meremajakan perkebunan sawitnya.

Dikatakan Sahuruddin, dari keseluruhan total areal perkebunan kelapa sawit yang ada di daerah itu, komposisi terbesar adalah dari kelompok petani swadaya. Yaitu, petani yang membuka dan mengolah sendiri lahan perkebunan kelapa sawitnya.

"Kelompok petani bermitra paling hanya 25 persen saja," kata Sahuruddin kepada elaeis.co melalui sambungan telepon, Senin (6/3).

Sebagian dari tanaman sawit di areal perkebunan kelompok petani swadaya itu, menurut Sahuruddin, sudah berusia tua, dan sudah waktunya untuk dilakukan peremajaan.

"Petani sadar akan hal itu, juga tahu bahwa kebun yang sudah tua saatnya diremajakan agar tingkat produktivitas kebun tetap terjaga," tambahnya.

Yang kemudian menjadi persoalan, sebut Sahuruddin, sebagian besar petani swadaya tidak memiliki kemampuan finansial untuk melakukan kegiatan replanting terhadap tanaman kelapa sawitnya.

"Terutama petani swadaya yang kelas ekonominya menengah ke bawah," kata Sahuruddin. Diakui harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus menunjukkan gejala membaik. "Tapidi tingkat harga sekarang ini, margin yang diperoleh petani tipis sekali."

Makanya, menurut Sahuruddin, jalan keluar dari persoalan itu antara lain petani swadaya membutuhkan uluran tangan pihak lain untuk mereplanting tanaman sawitnya. "Salah satu harapan kita gantungkan pada BPDPKS," katanya. BPDPKS adalah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, yang salah satu programnya adalah PSR.