Gorontalo, elaeis.co – Komoditas kelapa dinilai tak lagi cukup dijual dalam bentuk mentah jika ingin memberi keuntungan lebih besar bagi petani. 

Lewat forum Temu Teknologi Kelapa dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (23/6), peserta diajak membedah cara meningkatkan nilai jual kelapa melalui perbaikan budidaya hingga hilirisasi produk.

Forum yang digelar Direktorat Jenderal Perkebunan bersama BRMP Perkebunan Kementerian Pertanian itu menjadi salah satu kegiatan yang menyedot perhatian pada hari ketiga pelaksanaan PENAS XVII. 

Sekitar 160 peserta yang terdiri dari petani, penyuluh, akademisi, pelaku usaha, hingga kontingen dari berbagai daerah memadati ruang kegiatan.

Tak sekadar membahas teknik menanam, forum ini menyoroti satu hal penting: kelapa memiliki potensi ekonomi jauh lebih besar jika tidak hanya dijual sebagai bahan baku, melainkan diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.

Penyuluh Pertanian BRMP Perkebunan, R. Dani Medionovianto, yang memoderatori kegiatan tersebut, mengatakan forum teknologi seperti ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus solusi praktis yang bisa diterapkan petani di daerah masing-masing.

“Melalui kegiatan seperti ini, petani tidak hanya mendapat pengetahuan teknis, tetapi juga wawasan baru tentang bagaimana komoditas kelapa bisa dikembangkan lebih jauh agar memberi nilai ekonomi lebih besar,” ujar Dani saat membuka forum.

Materi pertama disampaikan Yulianus R. Matana dengan topik budidaya dan pemeliharaan tanaman kelapa. 

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa peningkatan hasil panen sangat ditentukan oleh kualitas benih, teknik penanaman, hingga konsistensi pemeliharaan kebun.

Menurut Yulianus, penguatan sektor hulu menjadi fondasi penting untuk menghasilkan kebun kelapa yang produktif dan berkelanjutan.