Budidaya yang dilakukan dengan baik sejak awal akan berdampak langsung pada kuantitas maupun kualitas hasil panen.

“Produktivitas kelapa sangat dipengaruhi kualitas benih dan teknik pemeliharaan tanaman. Kalau budidaya dilakukan dengan benar sejak awal, hasil yang diperoleh petani juga bisa jauh lebih optimal,” kata Yulianus.

Ia menjelaskan, pengelolaan kebun kelapa tak bisa lagi dilakukan secara tradisional tanpa perencanaan.

Pemilihan bibit unggul, pola tanam, pemupukan, pengendalian gulma, hingga perawatan rutin menjadi faktor yang menentukan hasil akhir.

Namun perhatian peserta tak berhenti pada urusan budidaya. 

Materi yang paling memantik diskusi datang dari Dr. Patrik M. Pasang yang membahas hilirisasi kelapa dan peluang usaha dari produk turunannya.

Dalam paparannya, Patrik menegaskan bahwa kelapa merupakan komoditas dengan spektrum pemanfaatan sangat luas. 

Jika selama ini petani cenderung menjual kelapa dalam bentuk utuh atau bahan mentah, maka ke depan pola itu harus mulai diubah agar petani tidak hanya bergantung pada harga pasar bahan baku yang fluktuatif.

Menurut dia, nilai ekonomi kelapa bisa meningkat berkali lipat bila diolah menjadi produk turunan seperti minyak kelapa, virgin coconut oil (VCO), bahan pangan olahan, hingga produk lain yang memiliki pasar lebih luas.

“Kelapa tidak seharusnya berhenti sebagai komoditas bahan baku. Ada banyak peluang nilai tambah yang bisa diciptakan melalui pengolahan produk turunan. Di situlah hilirisasi menjadi penting agar petani juga bisa menikmati manfaat ekonomi yang lebih besar,” ujar Patrik.

Pernyataan itu pun langsung memantik antusiasme peserta. Sejumlah petani dan pelaku usaha mengajukan pertanyaan seputar peluang usaha olahan kelapa, strategi pemasaran, hingga cara agar komoditas kelapa di daerah mereka tak lagi dijual dengan harga murah sebagai bahan mentah.