Jakarta, elaeis.co – Harga kontrak berjangka minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia melonjak tajam pada Kamis (19/2), usai pasar kembali dibuka setelah libur dua hari.
Kenaikan ini dipicu efek domino dari reli minyak kedelai di Amerika Serikat yang mengguncang pasar minyak nabati global.
Dilaporkan Bernama.com, penguatan CPO terjadi seiring lonjakan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) serta penguatan kontrak energi di Chicago Mercantile Exchange (CME).
Sentimen global tersebut langsung tercermin dalam perdagangan di Bursa Malaysia, mendorong harga kontrak CPO di semua seri mengalami kenaikan signifikan.
Head of Commodity Research Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, menyebut penguatan ini sebagai respons tertunda.
Menurutnya, selama pasar Malaysia libur, harga minyak nabati dunia sudah lebih dulu bergerak naik, sehingga ketika perdagangan dibuka kembali, harga CPO langsung menyesuaikan.
“Fokus sekarang akan tertuju pada data ekspor minyak sawit periode 1–20 Februari 2026 dan prospek produksi, yang dapat memberikan arah lebih jelas bagi pergerakan harga dalam jangka pendek,” kata Bagani.
Secara rinci, kontrak Maret 2026 naik RM80 menjadi RM4.093 per ton. Kontrak April 2026 menguat RM94 ke RM4.114 per ton, sementara kontrak Mei 2026 melonjak RM101 hingga mencapai RM4.117 per ton. Ini menjadi level yang mencuri perhatian pelaku pasar karena menunjukkan momentum bullish yang kuat.
Kontrak Juni 2026 turut naik RM105 menjadi RM4.116 per ton. Juli 2026 bertambah RM103 ke RM4.111 per ton, sedangkan Agustus 2026 naik RM106 menjadi RM4.108 per ton. Kenaikan merata di seluruh seri kontrak memperlihatkan optimisme pasar terhadap prospek jangka pendek komoditas ini.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume melonjak signifikan menjadi 72.636 lot dibandingkan 40.371 lot pada sesi sebelumnya. Lonjakan volume ini mencerminkan tingginya minat pelaku pasar dalam merespons sentimen global. Meski demikian, posisi terbuka (open interest) justru turun tipis menjadi 223.809 kontrak dari 225.359 kontrak, menandakan adanya aksi ambil untung di tengah reli harga.
Analis senior Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, menjelaskan bahwa kenaikan minyak kedelai di CME dipicu spekulasi peningkatan permintaan biodiesel di Amerika Serikat. Sentimen ini muncul menyusul rencana kebijakan baru oleh Environmental Protection Agency (EPA) yang akan diajukan ke Gedung Putih.
Pasar memperkirakan kebijakan tersebut dapat memperbesar mandat pencampuran biodiesel, sehingga meningkatkan kebutuhan minyak nabati sebagai bahan baku energi terbarukan. Lonjakan minyak kedelai pun tak terhindarkan, dan sebagai substitusi utama di pasar global, CPO ikut terdorong naik.
Namun di balik euforia harga, data ekspor Malaysia menunjukkan tren berbeda. Berdasarkan laporan AmSpec Agri Malaysia (AMSPEC), ekspor minyak sawit periode 1–15 Februari 2026 tercatat 587.431 ton, turun dari 690.642 ton pada periode yang sama Januari lalu. Penurunan sebesar 103.211 ton atau sekitar 14,94 persen ini menjadi faktor yang berpotensi membatasi penguatan lebih lanjut.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekspor lanjutan periode 1–20 Februari untuk mengukur seberapa kuat permintaan global terhadap CPO Malaysia. Prospek produksi juga menjadi perhatian, terutama memasuki fase musiman yang dapat memengaruhi pasokan.
Menariknya, di pasar fisik, harga CPO Maret South justru terkoreksi RM80 menjadi RM4.120 per ton. Perbedaan arah antara pasar berjangka dan fisik menunjukkan dinamika suplai dan permintaan yang masih bergejolak.
Dengan harga yang sudah menembus RM4.117 per ton untuk kontrak Mei 2026, pasar CPO kini berada dalam fase volatilitas tinggi. Arah kebijakan biodiesel AS, pergerakan minyak kedelai global, serta data ekspor Malaysia akan menjadi penentu utama apakah reli ini berlanjut atau justru berbalik arah dalam waktu dekat.
Harga CPO Tancap Gas ke RM4.117, Efek Domino Minyak Kedelai AS Bikin Pasar Bergejolak
Diskusi pembaca untuk berita ini