Menurut dia, pelaku usaha saat ini memilih berhati-hati dan mengikuti perkembangan harga di pasar agar kenaikan yang dilakukan tidak terlalu membebani petani.

Sementara itu, Dewan Pakar Agroinput Midzon Johannis mengatakan industri produk perlindungan tanaman atau pestisida menghadapi tekanan yang lebih kompleks.

Ia menjelaskan, sekitar 85 hingga 90 persen bahan aktif pestisida yang digunakan di Indonesia masih berasal dari impor, terutama dari China. Sementara hampir seluruh bahan tambahan, pelarut, hingga kemasan juga berbasis minyak bumi.

"Kalau harga minyak naik, otomatis harga bahan aktif dan bahan-bahan lainnya juga naik. Ditambah lagi dengan kurs dolar yang terus menguat, tekanan terhadap industri menjadi berlipat," kata Midzon.

Menurut dia, struktur biaya produksi pestisida sangat bergantung pada bahan baku impor. Bahan aktif menyumbang sekitar 20-35 persen biaya produksi, sedangkan kemasan mencapai 15-20 persen.

Kenaikan harga kemasan plastik berbahan HDPE dan PET bahkan disebut sudah mencapai lebih dari 50 persen. Beberapa perusahaan, kata dia, melaporkan kenaikan harga kemasan hingga lebih dari 100 persen.

"Ini sangat menggerus margin industri. Jadi tidak bisa dihindari bahwa tekanan biaya semakin besar," ujarnya.

Midzon mengatakan, kenaikan harga pestisida dapat memunculkan dua risiko sekaligus bagi sektor pertanian. Jika petani tetap membeli pestisida dengan harga lebih mahal, biaya usaha tani akan meningkat. Namun jika penggunaan pestisida dikurangi, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) berpotensi meningkat dan menyebabkan penurunan produksi.

"Kalau produksi turun, pasokan pangan akan terganggu dan harga pangan bisa ikut naik. Situasinya memang serba sulit," katanya.

Menurut Midzon, sebagian besar perusahaan saat ini memilih bertahan dengan menaikkan harga seminimal mungkin demi menjaga keberlangsungan usaha.

"Industri sekarang berada dalam mode bertahan. Sebisa mungkin kenaikan harga dibuat seminimal mungkin agar perusahaan tetap bisa berjalan," katanya.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan insentif bagi industri agroinput untuk membantu menekan biaya produksi sehingga harga benih dan pestisida tetap terjangkau bagi petani.

Selain itu, petani juga didorong untuk menggunakan pestisida secara lebih bijak dan sesuai dosis agar biaya produksi tidak semakin membengkak.

Dengan konflik global yang masih berlangsung dan kurs rupiah yang terus bergejolak, ancaman kenaikan harga benih dan pestisida diperkirakan masih akan berlanjut. 

Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap petani sekaligus menjadi tantangan bagi upaya menjaga ketahanan pangan nasional.