Dia lah pendorong Eropa melakukan cor ulang. Pemadatan ulang dalam sekali sentakan. Tak hanya Eropa, peta Asia pun beringsut, ketika kumpulan Republik Soviet berakhiran ”tan”, berbondong-bondong kembali ke rumah Asia (sebut misalnya Kazakhstan, Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, pun Azerbaijan dan Georgia). 

Berkat figur ini, ledakan pemisahan diri dari cengkeram raksasa beruang merah Sovyet (Republik Sosialis berukuran maha kekaisaran gigantis), bermula dari Republik-republik kecil sekitar pinggang Laut Baltik; Latvia, Estonia, Lithuania. 

Dalam negara (Soviet) dia dimaki. Di Eropa (Barat) dan rantau dunia lain dia malah dipuja dengan pujian seorang “pemberani”, dalam upaya melihat dunia dengan ‘mata baru’. Bukan ‘mata lama’. 

Stop perang dingin dengan acung-acungan hulu ledak nuklir yang mengarah ke Barat (begitu pula sebaliknya ke Timur oleh blok Barat), Gorbachev lah orangnya. 

Baca juga: Pusaka: Mana Orang Siak?

Tatanan dunia berubah lewat cahaya ‘mata baru’. Amerika tetap ingin jadi pemain utama di atas panggung gemeretap. Berkat Gorbachev, Cina jadi kampiun baru “menyorot mata merah” ke panggung itu. 

Amerika tetap resah, seraya memegang busur panah. ‘Mata baru’ bagi Rusia sebagai inti kekaisaran Soviet, bukanlah mainan lemak bagi Amerika. Sebab, ada ‘mata merah’ dari Timur setimur-timurnya (ya, Cina). Amerika senantiasa dipelihara dalam resah tiada sudah. 

Pagi ini, kisah besar menjelang penutup abad ke-20 itu disuling sebuah berita besar tentang kehilangan besar; Mikhail Sergeyevich Gorbachev wafat. 

Seorang aktor (politik) dunia yang menghadirkan ‘mata baru’, oleh kemauan zaman dan sejarah. Kurang dari 6 tahun, dia mampu menendang “tirai besi” dan meleburnya dalam “api penyepuhan”, sehingga luluh. Pada ketika itulah dunia melakukan cor ulang dan pengecasan ulang (recharging). 

Dua cogan sekaligus program utama: Glasnost dan Perestroika (keterbukaan dan restrukturisasi), bukanlah dimaksudkan sebagai upaya likuidasi Republik raksasa USSR (Uni Republik Sosialis Soviet). 

Tapi sebagai respon atas kenyataan negara dan masyarakat dengan ekonomi yang goyah. Populer di luar, dia malah jadi ‘buron’ oleh kaum komunis garis keras, atas semua kebijakan menguras peluh dan keringat tiada bertepi secara politik dan sistem sosial.

Dia sosok yang super realistik. Suatu kali dia berujar pendek kepada Eduard Shevarnadze: “Kita tak mungkin bisa hidup seperti ini lebih lama lagi”.