Selama tujuh dekade penguasaan komunis sebagai warisan yang melumpuhkan sistem sosial, ekonomi, korupsi formal, pabrik memproduksi barang usang, distribusi terjamin dengan konsumen terbatas. Hampir semua rak kosong melompong, terkecuali deretan vodka.
Untuk keluar dari jejaring warisan itu, diperlukan gerak cepat, sebagai tugas terpaksa dan memaksa. Bayarannya? Jabatannya dicopot, tersebab ambivalensi yang menyertai seluruh kebijakannya.
Sarang kelompok keras yang diangkatnya sendiri sebagai lingkaran satu, melakukan kudeta yang gagal. Selama bulan-bulan terakhir kepemimpinannya, dia duduk seakan di atas tribun (air mata) menyaksi dan menonton republik-republik (15 negara) yang mendeklarasi diri sebagai negara merdeka. Lepas dari Uni Soviet. ‘Tribun air mata’ ini berakhir sampai dia mengundurkan diri pada 25 Desember 1991.
Pada The Associated Press, setelah 25 tahun keruntuhan Uni Soviet, dia berkata: “Sama sekali tak mempertimbangkan penggunaan kekuatan senjata secara luas dan massif, untuk tetap menjaga kesatuan Uni Soviet. Alasannya, kekacauan akan terjadi di atas tanah-tanah yang mengandung nuklir”. “Perbuatan reformasi ini bagi saya, berguna untuk negara, untuk Eropa dan untuk dunia secara luas”, ucap Gorbachev suatu ketika.
Dia menerima hadiah Nobel Perdamaian 1990. Saat protes prodemokrasi yang mendemam di negara-negara Blok Soviet di Eropa Timur 1989, Gorbachev menahan diri. Tak seperti para pendahulunya yang mudah menyelesaikan ide-ide prodemokrasi dengan senjata yang tegang. Demokrasi pun meleleh.
Sorak puji seantero dunia kepada tokoh ini. Namun, kerisauan bak “awan gelap menggumpal” di dalam negara sendiri. Vladimir Shevchenk kepala Kantor Protokol Gorbachev berkata senak: “Era Gorbachev ialah era Perestroika, era harapan, penuh asa, era masuknya kita ke dunia bebas peluru kendali dan hulu ledak nuklir..., tapi ada satu kesahalan kalkulasi, bahwa kita tak mengenal negara kita secara baik”.
Dia juga melabrak nilai “domestikasi perempuan” dalam sistem komunisme yang kaku. Raisa Maximovna sang isteri selalu tampil di ruang-ruang publik sebagaimana First Lady Amerika Serikat kala itu Nancy Reagan.
BBC London dua jam lalu menyiar; “Mikhail Gorbachev, the former Soviet leader who brougth the Cold War to a peacefull end, has died aged 91". Kantor Berita Tass, menyitir, Gorbachev akan dimakamkan di pusara Novodevichy Moskow, di samping pusara sang istri, Raisa yang telah mendahuluinya pada 1999 silam.
Gorbachev, meninggalkan nama harum dengan sejumlah cor ulang muka bumi yang berputar...
Gorbachev
Diskusi pembaca untuk berita ini