Bengkulu, elaeis.co - Proses pengolahan TBS menjadi minyak kelapa sawit mentah (CPO) di pabrik kelapa sawit (PKS) menyisakan limbah padat dan cair. Salah satu limbah padat itu adalah bungkil.

Limbah ini bisa dijadikan sebagai pakan ternak. Namun, di Provinsi Bengkulu, keberadaan limbah tersebut seolah raib ditelan bumi.

Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Bengkulu, A Jakfar, mengaku sudah lama mencari tahu ke mana perginya bungkil yang ada di puluhan PKS di provinsi itu.

"Tidak diketahui dibuang atau dijual kemana, itu yang masih jadi misteri. Kalau kita tanya di bawa ke mana, PKS bilang dijual ke luar negeri. Tapi catatan ekspornya tidak ada sama sekali di Bengkulu," kata Jakfar, kemarin.

Menurutnya, dari pada diekspor, lebih baik bungkil dipakai untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak dalam negeri. "Banyak peternak di Bengkulu kesulitan untuk mendapatkan pakan ternak, kenapa dijual ke luar negeri?" tuturnya.

Ia menjelaskan, bungkil inti sawit adalah salah satu hasil ikutan dari proses pembuatan CPO yang mengandung protein, lemak, serat kasar, dan kaya akan mineral.

"Jadi bungkil kelapa sawit itu bagus untuk pakan ternak karena bergizi," ujarnya.

Penggunaan bungkil kelapa sawit juga menurunkan biaya pakan ternak. 1 kilogram bungkil dihargai Rp 2.500 hingga Rp 5.000, lebih murah dibandingkan harga pakan ayam yang saat ini mencapai Rp 13 ribu per kilogram. "Peternak semakin untung," sebutnya.

Kepala Karantina Pertanian Bengkulu, drh Bukhari MM mengatakan, hingga saat ini belum ada kegiatan ekspor bungkil sawit dari Bengkulu. Padahal produksi bungkil di Bengkulu cukup besar, mencapai ribuan ton per bulan.

"Bungkil sawit banyak dipakai negara-negara di Asia untuk pakan ternak. Tapi sepertinya bungkilnya bukan dari Bengkulu, karena tidak ada catatan ekspor di sini," bebernya.

Jika bukan untuk dimanfaatkan oleh peternak lokal, pihaknya berharap bungkil sawit diekspor langsung dari Bengkulu. "Sehingga dampaknya ada bagi perekonomian di Bengkulu," tukasnya.