Pekanbaru, Elaeis.co - Gelaran Workshop Praktek dan Produksi Batik Sawit yang digagas Elaeis Media Group (EMG) resmi ditutup, Rabu (22/4) petang. Peserta antusias dapat ide peluang pasar baru dari industri batik.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini telah diselenggarakan sejak Selasa (21/4) kemarin. Dimana peserta sangat antusias mengikuti jalannya gelaran.
Bukan hanya dari kota Pekanbaru, kegiatan ini diikuti sejumlah peserta yang merupakan pelaku UMKM dari berbagai kabupaten di Riau. Seperti Syamsiah, peserta yang datang langsung dari Kepulauan Meranti.
Dari tempat tinggalnya, Syamsiah atau yang dikenal akrap dengan sapaan Mak Rita ini harus menempuh jarak 6-7 jam perjalanan ke kota Pekanbaru. Dimana perjalanannya itu semata-mata hanya ingin mengikuti kegiatan praktek dan produksi batik berbahan dasar "malam" kelapa sawit.
"Saya ingin menambah ilmu dan wawasan mengenai batik apalagi ini memakai bahan dasar dari kelapa sawit," ujar Mak Rita disela kegiatan berlangsung.
Menurutnya, di tempat tinggalnya masih sangat sulit menemukan penjual batik atau bahkan pengrajin batik. Hal ini memotivasi Mak Rita untuk lebih mendalami seluk beluk batik melalui gelaran yang ditaja EMG.
Mak Rita sendiri merupakan pengrajin tenun skala rumahan yang memang sering mendapat dari sejumlah instansi atau pejabat di wilayahnya. Selain membuat tenun, Ia juga menyewakan kain tenun yang sudah menjadi pakaian. Misalnya baju pengantin dan sebagainya.
"Memang kami pernah mencoba untuk membuat batik, tapi masih tidak maksimal. Karena jika produksi dengan jumlah yang cukup banyak warna justru berubah-ubah. Nah, dari kegiatan ini lah saya tau cara pewarnaan, cara mencanting yang benar serta pemilihan bahan yang tepat," katanya.
Harapan Mak Rita, Ia dapat mengembangkan ilmunya hingga menghasilkan produk batik yang dapat diperjualbelikan. "Sampai di rumah nanti saya akan coba produksi dengan cara yang sesuai dengan ilmu yang saya dapat. Sehingga menambah varian produk yang kita produksi," jelasnya.
Hingga kini, Ibu satu anak itu mengaku sering mendapat pesanan kain batik dari konsumennya. Namun Ia mengaku belum sanggup lantaran tidak mengetahui secara detail cara membuat batik.
"Kita ini skala rumahan, kalau kain tenun dalam satu bulan hanya bisa menghasilkan dua kain saja. Tapi dalam kegiatan ini dalam waktu satu jam saja, saya kira bisa dua atau tiga kain batik yang saya hasilkan. Tentu dengan motif yang mudah. Mudah-mudahan ini jadi peluang usaha baru bagi saya dan ibu-ibu di tempat saya tinggal," paparnya.
"Ini dari kemarin, saya dihubungi terus oleh teman-teman di tempat tinggal saya. Mereka minta untuk diajari, nah nanti saya akan gandeng mereka untuk belajar bersama," tuturnya.
Meski begitu, Mak Rita akan coba mengumpulkan berbagai bahan untuk pembuatan batik itu sendiri. Salah satunya malam dari kelapa sawit. Menurutnya menggunakan malam ini lebih mudah dalam mencanting.
"Saya baru kali ini membuat pola, motif dan langsung mencanting. Dan menggunakan bahan ini kok terasa mudah. Saya kira saya bisa kembangkan nanti," jelasnya.
Sama halnya dengan Heru, Ia sangat senang sekaligus bangga dapat mengikuti workshop batik sawit ini. Pria asal Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) itu merasa mendapat tambahan wawasan cara membuat batik yang benar.
"Ini kegiatan yang sangat bagus. Namun sayang waktunya cukup singkat hanya dua hari. Kita berharap kedepan waktunya diperpanjang," pintanya.
Dikatakannya, bahan malam dari kelapa sawit memang memiliki kelebihan dibandingkan dengan malam yang biasa digunakan membatik. Pertama baunya tidak menyengat, sehingga tidak terlalu menganggu pernapasan.
Kemudian bahan tersebut ringan dan tidak menggumpal. Ini sangat membantu saat pembatik mencanting kain. "Ini inovasi baru bagi kami dan saya berharap bisa mengembangkannya di Inhu. Disana juga masih sangat sedikit pembatik, ini tentu jadi peluang," tandasnya.
Dihari kedua ini, seluruh peserta yang berjumlah 50 orang tersebut membuat kain batik sesuai dengan keinginannya masing-masing. Dimana dalam prosesnya peserta dipandu langsung oleh Miftahudin Nur Ihsan yang merupakan Ketua Umum Paguyuban Batik sawit, Rizky Junianto dari Smart Batik Yogyakarta dan Andiny Yuliani yang merupakan salah satu desainer di Kota Bertuah.
Batik Sawit Jadi Inovasi Baru Bagi Pengrajin Batik dan Pelaku UMKM di Riau
Diskusi pembaca untuk berita ini