Lima jam menempuh perjalanan kapal speedboat dari kampungnya, di Pelabuhan Tembilahan, H Teddy Susilo, pengurus Apkasindo Inhil sudah menunggu Risa. 

Setelah bermalam di Kempas Jaya, tadi pagi Risa ditemani Teddy dan pengurus Apkasindo Inhil lainnya, bertolak ke Pekanbaru untuk bergabung dengan mahasiswa Polkam lainnya di Balai Pelatihan Pertanian, Marpoyan. 

Habis sudah kata-kata Risa untuk dirangkai sebagai ucapan terimakasih kepada Apkasindo yang telah memberinya ruang untuk menjemput masa depan. 

“Mudah-mudahan Allah memberikan balasan kebaikan yang sebesar-besarnya. Apkasindo semakin besar dan pengurusnya sehat semua. Biar petani-petani kayak kami semakin banyak tertolong,” Risa berdoa.  

Gulat yang kebetulan sedang berada di Medan terdengar menarik napas panjang saat dihubungi elaeis.co. “Risa itu adalah sosok nyata tentang apa yang selama ini kami suarakan. Bahwa beasiswa sawit itu harus dengan tujuan khusus (affirmative action), bukan seperti sekarang, khususnya pada tiga tahun terakhir,”suara lelaki 49 tahun ini bergetar. 

Bagi Apkasindo kata Gulat, kisah Risa menjadi penguat untuk meminta quota kekhususan kepada Ditjenbun dan BPDPKS agar “Risa Risa” yang lain lebih mudah menjemput impiannya. 

“Kami sudah berkomunikasi dengan Pak Dirjenbun, beliau sangat mendukung. Tahun depan adalah awalnya. Anak-anak petani sawit dengan segala keterbatasannya akan menjadi target kami, semua akan kami seleksi sendiri setelah kami mendata dan mensurvey calon mahasiswa dari aspek ekonomi keluarga, kemauan si anak dan keterwakilan dari 22 provinsi sawit dari Aceh sampai Papua. Kampus-kampus seperti IPB, UGM dan Universitas di daerah akan menjadi mitra baru,” katanya. 

Kalau kemudian BPDPKS tidak mau membiayai kata Gulat, Apkasindo bersama Asosiasi Sawitkku Masa Depanku (SAMADE) akan membiayai sendiri lewat rekening “gotong royong”. 

“Itu enggak susah. Saya sudah hitung, kalau 100 orang anak kami kuliahkan, dalam setahun paling butuh duit sekitar Rp6,5 miliar. Sementara kalau 1 kg TBS saja per hektar disumbang oleh anggota Apkasindo dan SAMADE, dalam setahun sudah terkumpul Rp9,6 miliar. Asumsinya harga TBS Rp2.000 per kg ya,” Gulat menghitung. 

Biaya bulanan untuk uang saku anak-anak itu kata Gulat akan digandakan menjadi Rp2,5 juta perbulan. “Enggak seperti selama ini yang hanya Rp1,4 juta per bulan. Malu saya mendengarnya,” suara Gulat melengos.

Kepada Polkam yang sudah menerima Risa, Gulat sangat berterimakasih. Mudah-mudahan ini menjadi titik balik dari filosofi awal beasiswa ini, yang 3 tahun terakhir sudah lari dan menyimpang. 

"Tujuh tahun lalu cikal bakal beasiswa ini dilahirkan di Instiper Yogyakarta bersama sesepuh Apkasindo. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada anak-anak kami --- dengan segala keterbatasannya --- bisa kuliah di Fakultas Pertanian dibiayai sawit. Sejarah mencatat itu, jangan dialihkan menjadi bisnis dengan modus “seleksi,” benar-benar tegas Gulat mengingatkan.